Kopi Sumba Terenak se-Indonesia

id Kopi

Sedapnya Kopi Sumba

Hampir di semua pekarangan rumah orang Sumba khususnya di dataran tinggi seperti Wewewa, terdapat pohon kopi yang buahnya kebanyakan dipanen untuk konsumsi sendiri atau dijual ke pasar tradisional.
Weetabula, NTT (Antara NTT) - Setiap rumah tangga di Sumba mengonsumsi kopi, artinya orang Sumba peminum kopi, seperti yang diungkapkan oleh Debora, seorang perempuan petani kopi di Desa Kadi Roma, Kecamatan Wewewa Tengah, di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Hampir di semua pekarangan rumah orang Sumba khususnya di dataran tinggi seperti Wewewa (baca Wejewa), terdapat pohon kopi yang buahnya kebanyakan dipanen untuk konsumsi sendiri atau dijual ke pasar tradisional.

Kebanyakan masyarakat memetik kopi kemudian menjemur, menggoreng,  dan menggiling biji kopi dengan cara tradisional yang turun-temurun mereka lakukan. 

Kopi yang digemari adalah yang pada saat menggorengnya dicampur dengan potongan-potongan jahe (halia) untuk menambah harum pada aroma kopi saat diseduh serta memberi rasa hangat saat diminum. Tentu saja, kebiasaan warga setempat adalah membubuhkan banyak gula pasir pada air kopi.

Kebiasaan itu mulai bergeser setelah sebagian warga mengenal cara merawat tanaman kopi, memanen dengan tepat, mengolahnya hingga menyajikannya.

Petani kopi di desa Kadi Roma mulai bisa membanggakan produk olahan berupa bubuk kopi yang dikemas dengan nama dagang kopi aroma Sumba, sebagai hasil produksi yang diunggulkan.

Kebanggaan tersebut mereka nikmati setelah jerih payah merawat tanaman kopi, memetik buah hingga menghasilkan kopi  bubuk  dilakukan dengan teknologi yang benar serta terbukti dapat meningkatkan kualitas produksi yang mendapat pengakuan pasar.

Peningkatkan kualitas produksi kopi terjadi berkat ketekunan para petani dalam mengikuti bimbingan para pakar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kerja sama antara LIPI dan Pemerintah Kabupatan Sumba Barat Daya (SBD) dilakukan sejak 2015 melalui program Iptekda LIPI yang membidik kelompok masyarakat dengan memperhatikan potensi daerah di Sumba Barat Daya (SBD). Potensi yang ditemukan adalah pada komoditas kopi dan mete.

Program berjalan dengan pendampingan teknis usaha kecil menengah (UKM) untuk jenis  usaha tanaman kopi serta mete kemudian didukung Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten SBD dan berlanjut dengan program Teknologi Tepat Guna LIPI pada 2016 dan 2017.

Pada saat awal, tim dari LIPI menggandeng UKM Lembah Hijau (kini menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Lembah Hijau) yang menghimpun sejumlah petani kopi di Wewewa Tengah khususnya Desa Kadi Roma, sebagai kelompok yang binaan, dengan  Elizabeth Malo sebagai ketua kelompoknya.

Menurut Carolina, peneliti pendamping dari LIPI, keberadaan KSU Lembah Hijau diharapkan menjadi lokomotif yang dapat menarik 187 UKM lain di sekitarnya, mengingat 19.200 keluarga di wilayah itu menempatkan kopi sebagai komoditas yang "dekat di hati" mereka.

Mama Elizabeth 
Elizabeth Malo adalah sosok yang berperan penting dalam keberhasilan KSU Lembah Hijau, yaitu dengan ketekunannya mengajak para petani untuk bersama-sama belajar serta mengolah kopi dengan cara baru.

Sejak mendapat bimbingan teknis dari LIPI, perubahan mendasar mereka lakukan antara lain kini mereka hanya memanen biji kopi yang merah pertanda telah masak di pohon, memprosesnya dengan penjemuran, fermentasi, menggoreng dengan suhu yang tepat agar mencapai tingkat kematangan yang pas dan tidak gosong serta menyeduhnya dengan suhu air sekitar 80-85 derajat kemudian menyajikannya tanpa gula. 

Meskipun demikian, penduduk masih tetap suka kopi manis ketimbang kopi tanpa gula. Elizabeth mengakui merintis kegiatan usaha kopi ini dari skala kecil, industri rumah tangga dengan menjajak para petani di sekitarnya.

"Semula kami menggoreng 20 kg kopi dalam sehari, kemudian mengemasnya dalam dua varian yaitu kopi asli dan kopi jahe, serta memasarkannya ke kios-kios dan toko di Sumba Barat Daya," katanya.

Kini, kopi produksi mereka sudah dikenal sebagai salah satu produk oleh-oleh khas daerah dan dijual dengan harga Rp10.000 untuk kemasan 100 gram serta Rp25.000 untuk kemasan 250 gram.

Tanaman kopi setempat adalah jenis robusta yang selama ini dipandang memiliki kualitas lebih rendah dibanding kopi arabica, namun dengan perawatan tanaman dan proses yang baik termasuk penerapan fermentasi laiknya proses pengolahan kopi arabica, kini kopi robusta Wewewa berhasil menjadi kopi spesial, dan menjadi kopi terenak di Indonesia.

Prestasi itu didapat setelah kopi Sumba dari Wewewa ini disertakan dalam lomba cita rasa kopi pada Festival Kopi Nusantara dan melewati uji cita rasa pada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur pada Agustus 2017.

Kopi Sumba mendapat nilai 86,76 pada sistem penilaian "Score cupping Test Specialty" untuk jenis robusta, menyingkirkan sembilan finalis lain.

Kopi Sumba ini memiliki keunikan ada rasa coklat dan 'after taste' yang enak, kata Arie Sudaryanto, seorang peneliti LIPI yang juga menjadi pendamping petani setempat.

Di kelompok Robusta, kopi Sumba ini telah terbukti mendapat pengakuan sebagai kopi paling enak di Indonesia, dan petani setempat mendapat tantangan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas tersebut.

Tantangan Petani
Para petani mengaku harus berjuang untuk menjaga kualitas produksi, sembari menghadapi tantangan alami seperti serangan penyakit jamur batang, hama semut merah yang memakan bakal buah dan juga teknik budidaya yang lenbih tertata.

Dalam diskusi bersama antara Kepala LIPI Bambang Subiyanto dengan petani kopi di Desa Kadi Roma yang dipandu oleh Wakil Bupati SBD, Ndara Tagu Kaha, Minggu 24/9, sejumlah petani mengemukakan harapan mereka agar LIPI bisa terus melanjutkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna bagi mereka untuk memecahkan masalah yang selama ini mereka hadapi.

"Tanaman kopi sudah lama kami miliki, tantangannya dari tahun ke tahun sama yaitu jamur batang yang bisa mematikan tanaman, serangan hama, kesulitan air dan semua itu belum ada solusinya. LIPI sebagai 'presidennya' ilmu pengetahuan di Indonesia saya harap bisa membantu kami mencari solusi, tidak harus sekarang tetapi mungkin pada 2018, 2019 dan seterusnya," kata Debora.

Daud, petani yang lain menyampaikan bahwa desa mereka sangat memerlukan air bersih, sementara sumber air di desa mereka terletak di gua-gua dan dalam tanah sehingga memerlukan dukungan teknologi untuk memperolehnya.

Bambang Subiyanto menegaskan LIPI akan melanjutkan kerja sama dan dukungannya, serta mengharapkan agar masyarakat khususnya generasi muda bersedia serta mampu menerima transfer teknologi yang diberikan, guna meningkatkan pruduktivitas pertanian khususnya kopi.

menurutnya, konsumsi kopi di dalam negeri belakangan meningkat, bahkan menyebabkan ekspor kopi Indonesia berkurang karena permintaan di dalam negeri yang naik dan pada akhirnya ikut mempengaruhi kenaikan harga kopi dunia.

Kopi Sumba yang menurutnya sudah terbukti memiliki cita rasa tinggi, tidak mustahil akan bisa menembus pasar dunia dan masuk ke gerai-gerai kopi internasional.

Untuk mempersiapkan kemungkinan tersebut, Bambang mengajak pemkab dan masyarakat mulai memilikrkan untuk mendaftarkan hak paten kopi Sumba, agar memberi keuntungan di masa mendatang.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar