Logo Header Antaranews Kupang

Marianus Sae Calon Figur Alternatif

Senin, 2 Oktober 2017 20:06 WIB
Image Print
Marianus Sae, Bupati Ngada di Pulau Flores saat ini dinilai sebagai figur alternatif dalam ajang Pemilu Gubernur NTT pada 2018. (Foto Ist)
"Figur Bupati Ngada di Pulau Flores bagian tengah itu merupakan pilihan alternatif untuk menjembatani dikotomi figur tua-muda yang bakal maju pada Pilgub NTT 2018," kata Ahmad Atang.

Kupang (Antara NTT) - Pengamat politik Dr Ahmad Atang menilai pemunculan Marianus Sae sebagai bakal calon Gubernur Nusa Tenggara Timur yang akan diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam ajang politik lima tahunan pada 2018 merupakan figur alternatif.

"Figur Bupati Ngada di Pulau Flores bagian tengah itu merupakan pilihan alternatif untuk menjembatani dikotomi figur tua-muda yang bakal maju pada Pilgub NTT 2018," katanya kepada Antara di Kupang, Senin.

Mantan Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Kupang itu menilai PKB Nusa Tenggara Timur memiliki kecerdikan tersendiri dalam memunculkan figur alternatif untuk menjadi bakal calon Gubernur NTT periode 2018-2023.

Namun, Ahmad Atang melihat kondisi politik saat ini masih rawan karena PKB NTT harus bekerja keras membangun koalisi permanen dengan parpol lain untuk meloloskan Marianus Sae ke jenjang Pilgub NTT pada 2018.

"PKB tidak memiliki kursi yang signifikan di DPRD NTT untuk mencalonkan Marianus Sae sebagai bakal calon gubernur. Karena itu, PKB harus bekerja keras untuk menggapainya," ujarnya.

Keterpikatan PKB NTT untuk memunculkan Marianus Sae sebagai bakal calon gubernur itu, karena melihat prestasinya dalam membangun Kabupaten Ngada selama masa kepemimpinannya menjadi Bupati Ngada.

Ahmad Atang melihat momentum kemunculannya belum terlambat karena partai politik yang akan bertarung dalam konstalasi politik lima tahunan itu belum benar-benar melakukan koalisi permanen.

"Masih ada waktu yang cukup bagi PKB dan Marianus Sae membangun lobi-lobi politik dengan parpol lain untuk membangun koalisi permanen, termasuk juga mencari figur calon pendampingnya," ujar dosen Fisip Universitas Nusa Cendana Kupang itu.

Menuut dia, yang harus dilakukan oleh Marianus Sae saat ini adalah memastikan elektabilitas sebagai prasyarat untuk mendapatkan kendaraan politik menuju Pilgub NTT.

"Jika elektabilitasnya tinggi tentu partai akan datang dengan sendirinya, sebab partai hari ini justru memilih figur karena popularitas dan elektabilitas tinggi," katanya.

Sebagai figur yang baru dimunculkan, posisi Marianus Sae dinilai belum teruji berdasarkan hasil survey, sehingga PKB sebagai partai pengusung harus benar-benar bekerja keras untuk meloloskan figur alternatif tersebut.

Hampir semua partai politik yang ada, tidak memiliki kursi yang signifikan di DPRD NTT untuk menentukan calonnya maju sendiri dalam pelamiman Pilgub NTT 2018.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Timur sebagai institusi penyelenggara Pilkada, mematok 13 kursi bagi parpol untuk mengajukan calonnya sendiri, sementara kursi yang diraih parpol, paling tinggi hanya mencapai 11 kursi.

Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang memiliki 11 dan 10 kursi di DPRD NTT, tampaknya juga masih kewalahan untuk membangun koalisi dengan parpol lain, sehingga arah politik mereka berkoalisi pun terkesan kabur dan tidak berwujud.

Dalam hubungan dengan itu, tawar menawar politik antarpartai politik dalam menghadapi Pilgub NTT 2018, dinilai akan semakin seru dan bertambah mahal harganya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026