Logo Header Antaranews Kupang

Gempa Ngada akibat aktivitas subduksi lempeng Hindia terhadap Eurasia

Jumat, 27 Juli 2018 13:00 WIB
Image Print
Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Ngada pada Jumat (27/7) pagi akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Samudera Hindia terhadap lempeng Eurasia.
Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,3 SR yang mengguncang Kabupaten Ngada di Pulau Flores, NTT pada Jumat pagi, akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Samudera Hindia terhadap lempeng Eurasia.

Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Stasiun Geofisika Kampung Baru Kupang Robert Pwen Wahyu mengatakan gempa bumi tektonik berkekuatan 5,3 SR yang mengguncang Kabupaten Ngada di Pulau Flores, NTT pada Jumat pagi, akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Samudera Hindia terhadap lempeng Eurasia.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi lempeng Samudera Hindia terhadap lempeng Eurasia," katanya kepada Antara di Kupang, Jumat (27/7) siang.

Pada Jumat, pukul 04.36.49 WIB, wilayah Laut Sawu diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan M=5,3. Hasil analisis update BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki kekuatan M=5,2.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,14 Lintang Selatan dan 121,26 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 50 km arah tenggara Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, pada kedalaman 88 km.

Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Laut Sawu ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan oblique naik (Oblique Thrust).

Guncangan gempa bumi itu dirasakan juga di daerah Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba dengan intensitas I SIG-BMKG (II MMI).

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Baca juga: Alor digucang gempa
Baca juga: Gempa berkekuatan 5,4 SR guncang Sumba Barat Daya



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026