Logo Header Antaranews Kupang

2nd Sherpa Meeting di Labuan Bajo beri catatan pemulihan pariwisata

Minggu, 10 Juli 2022 17:53 WIB
Image Print
Suasana menjelang pembukaan 2nd Sherpa Meeting G20 di Labuan Bajo, NTT, Minggu (10/7/2022). (ANTARA/Fransiska Mariana Nuka)
Itu highlight dukungan yang menjadi endorsment kita secara nasional dengan negara G20...

Labuan Bajo (ANTARA) - Pertemuan kedua atau 2nd Sherpa Meeting G20 Indonesia yang berlangsung di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT pada hari pertama memberikan catatan penting terkait pemulihan pariwisata.

"Menjadi tanggapan dalam pertemuan tadi, isu yang menjadi catatan bahwa pariwisata adalah sektor terdampak. Kita merasakan dua tahun terakhir baik skala global, nasional, dan daerah," kata Chair Tourism Working Group G20 Indonesia Fransiskus Xaverius Teguh usai mengikuti Sesi I Global Health Architecture 2nd Sherpa Meeting di Hotel Meruorah Labuan Bajo, Minggu, (10/7/2022).

Dalam laporan kemajuan kelompok kerja pariwisata (Tourism Working Group/TWG) pada sesi satu itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ingin menghasilkan sebuah komitmen internasional yang akan disebut sebagai Bali Guidelines dengan fokus pemulihan dipusatkan kepada masyarakat dan UMKM.

Sebagai sektor terdampak, anggota G20 yang hadir dalam pertemuan tersebut pun melihat pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki peran penting untuk pemulihan. Tentu saja hal itu selaras dengan tema Presidensi G20 Indonesia yakni Recover Together, Recover Stronger.

Oleh karena itu, aspek keberlanjutan (sustainability) untuk mendorong pariwisata yang lebih berkualitas dan lebih berkelanjutan pun menjadi catatan kritis para anggota G20.

Selain itu isu mengenai ketahanan yang berkelanjutan juga menjadi perhatian dari pengelolaan dan pengembangan kepariwisataan.

Sebagai bentuk dukungan yang akan dihasilkan pada forum G20 khususnya pada TWG dan berkaitan dengan Bali Guidelines, ada lima kerangka aksi yang menjadi highlight referensi global dan nasional.
Lima kerangka aksi itu yakni sumber daya manusia; digitalisasi, inovasi, dan ekonomi kreatif, keterlibatan anak muda dan perempuan; konservasi dinamis, ekonomi sirkular dan keberlanjutan; serta kebijakan, governance, dan kerangka investasi.

"Itu highlight dukungan yang menjadi endorsment kita secara nasional dengan negara G20," ungkap Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf/Plt Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Baparekraf ini.

Fransiskus mengatakan kegiatan G20 Indonesia menjadi momen penting bagi sektor pariwisata karena Indonesia belajar untuk menjadi tuan rumah dan memiliki titik pertemuan penting dalam pergerakan wisatawan.

Hal penting dari kegiatan ini yakni dampaknya pada sektor ekonomi terutama di bidang pariwisata, yang mana keterlibatan jumlah tenaga kerja yang banyak di hotel dan restoran karena meningkatnya jumlah kunjungan.

"Itu saya kira sekaligus menggarisbawahi event di bidang pariwisata ini seperti G20 mempunyai nilai strategis karena membangun kepercayaan dan kredibilitas. Itu penting bagi pariwisata," ucap dia.

Menurutnya kredibilitas di mata internasional akan membuat banyak orang datang untuk melihat destinasi wisata dalam negeri.

Tentu saja kredibilitas dapat meningkatkan reputasi Indonesia dalam promosi pengembangan kepariwisataan secara luas.

Pertemuan Sherpa G20 kedua ini diselenggarakan di Labuan Bajo mulai tanggal 10 Juli hingga 13 Juli 2022.

Baca juga: Sherpa G20 membahas pengakuan sertifikat vaksinasi antar-negara

Adapun perwakilan dari 19 negara anggota G20, enam negara undangan, dan sembilan organisasi internasional hadir untuk mengikuti berbagai agenda yang mencakup tiga isu prioritas presidensi Indonesia di G20, serta kunjungan ke Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar.

Baca juga: G20 Indonesia targetkan dana perantara beroperasi pada September 2022

Sementara itu, satu negara anggota mengikuti kegiatan secara virtual yakni Amerika Serikat.



Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2026