Tiga faktor penyebab orang memilih golput
Rabu, 5 Desember 2018 14:24 WIB
Pater Gregor Neonbasu SVD, PhD (ANTARA Foto/dok)
Kupang (ANTARA News NTT) - Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Nusa Tenggara Timur Pater Gregor Neonbasu SVD PhD menilai ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab sebagian orang lebih memilih menjadi golput.
"Faktor pertama adalah kurang berkualitas kampanye yang disampaikan oleh para calon legislator yang ikut dalam kontestan pemilu," kata rohaniawan Katolik itu kepada Antara di Kupang, Rabu (5/12).
Selain tidak berkualitas, kata dia, kampanye yang disampaikan pun kurang menarik dan tidak membangkitkan hasrat warga masyarakat untuk mengambil bagian dalam suatu pesta demokrasi.
Dia mengemukakan pandangan itu, menjawab pertanyaan seputar mengapa sebagian orang lebih suka memilih menjadi golput ketimbang menjadi peserta pemilu yang baik.
"Saya pernah menerima jawaban dari warga yang pernah mengatakan bahwa daripada bersusah-susah mengikuti Pemilu, lebih baik dan lebih aman menjadi golput saja," ucapnya.
"Analisa saya, alasan pertama adalah kualitas kampanye kurang menarik minat, dan tidak membangkitkan hasrat warga masyarakat untuk mengambil-bagian dalam pemilu," katanya menambahkan.
Baca juga: Kependudukan hal terpenting dalam pemilu 2019
Faktor kedua adalah, para kader yang dicalonkan oleh partai-partai politik mungkin melewati mekanisme partai politik, namun warga melihat justru dengan pertimbangan berbeda.
"Orang kampung yang ada di pelosok desa sudah pintar menilai, calon mana yang layak menjadi wakil mereka," katanya.
Faktor ketiga adalah praktek politik, dimana warga masyarakat juga sudah mahir membaca mengenai politik uang (money politic), yang sudah memborgol kreativitas para politisi.
Menurut dia, selama uang menguasai khazanah dunia politik, maka kualitas politik juga sama seperti berdagang.
Bedanya adalah para pedagang selalu melihat dan pandai menghitung untung dan rugi.
"Tetapi berdagang dalam dunia politik ibarat membangun jurang untuk masa depan," kata Pater Gregorius yang juga Anggota Institut Antropos Jerman itu.
Baca juga: Kapolda: dua pertiga pasukan amankan pemilu 2019
"Faktor pertama adalah kurang berkualitas kampanye yang disampaikan oleh para calon legislator yang ikut dalam kontestan pemilu," kata rohaniawan Katolik itu kepada Antara di Kupang, Rabu (5/12).
Selain tidak berkualitas, kata dia, kampanye yang disampaikan pun kurang menarik dan tidak membangkitkan hasrat warga masyarakat untuk mengambil bagian dalam suatu pesta demokrasi.
Dia mengemukakan pandangan itu, menjawab pertanyaan seputar mengapa sebagian orang lebih suka memilih menjadi golput ketimbang menjadi peserta pemilu yang baik.
"Saya pernah menerima jawaban dari warga yang pernah mengatakan bahwa daripada bersusah-susah mengikuti Pemilu, lebih baik dan lebih aman menjadi golput saja," ucapnya.
"Analisa saya, alasan pertama adalah kualitas kampanye kurang menarik minat, dan tidak membangkitkan hasrat warga masyarakat untuk mengambil-bagian dalam pemilu," katanya menambahkan.
Baca juga: Kependudukan hal terpenting dalam pemilu 2019
Faktor kedua adalah, para kader yang dicalonkan oleh partai-partai politik mungkin melewati mekanisme partai politik, namun warga melihat justru dengan pertimbangan berbeda.
"Orang kampung yang ada di pelosok desa sudah pintar menilai, calon mana yang layak menjadi wakil mereka," katanya.
Faktor ketiga adalah praktek politik, dimana warga masyarakat juga sudah mahir membaca mengenai politik uang (money politic), yang sudah memborgol kreativitas para politisi.
Menurut dia, selama uang menguasai khazanah dunia politik, maka kualitas politik juga sama seperti berdagang.
Bedanya adalah para pedagang selalu melihat dan pandai menghitung untung dan rugi.
"Tetapi berdagang dalam dunia politik ibarat membangun jurang untuk masa depan," kata Pater Gregorius yang juga Anggota Institut Antropos Jerman itu.
Baca juga: Kapolda: dua pertiga pasukan amankan pemilu 2019
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Antropolog: Sinergi pendidik-orang tua harus kuat dalam penguatan karakter
30 November 2020 13:39 WIB, 2020
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
Menteri PPPA: Penanganan kasus kekerasan seksual harus berperspektif korban
15 February 2026 11:04 WIB
KPK mendalami kaitan rangkap jabatan Mulyono dengan kasus restitusi pajak
15 February 2026 11:01 WIB
Presiden Prabowo: Kami tahu ada yang mengganggu Indonesia, kami tidak bodoh
14 February 2026 8:24 WIB
Eks Dirut PT PIS dituntut 14 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:16 WIB
Anak Riza Chalid dituntut 18 tahun penjara pada kasus dugaan korupsi minyak
14 February 2026 8:14 WIB
Gubernur NTT menegaskan proses hukum pihak memanipulasi data warga miskin
13 February 2026 18:36 WIB