Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Desember 2025 mencapai sebesar 101,46 atau turun 0,09 persen dibanding November 2025 yang sebesar 101,55.

"Indeks terima bergerak lebih lambat dibandingkan indeks bayar," kata Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale di Kupang, Senin.

Ia menjelaskan kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga komoditas konsumsi rumah tangga dan barang modal yang dibayar petani meningkat lebih cepat dibandingkan harga komoditas pertanian yang diterima petani.

"Penurunan NTP Desember 2025 terutama dipengaruhi oleh subsektor hortikultura yang turun 0,99 persen yang utamanya disebabkan oleh cabai rawit, terung, dan tomat," ujarnya.

Ia mengatakan subsektor perkebunan rakyat turun 0,28 persen dengan penyumbang penurunan terbesar yaitu biji jambu mete, pala biji, dan cengkeh.

Subsektor peternakan juga turun 0,13 persen dengan andil terbesar disumbang oleh ayam ras pedaging, ayam kampung, dan babi.

Adapun subsektor yang mengalami kenaikan di antaranya subsektor tanaman pangan naik 0,03 persen dengan komoditas penyumbang kenaikan yaitu jagung dan gabah.

Subsektor perikanan naik 0,57 persen dengan andil terbesar dari ikan layang, ikan tembang, dan ikan kembung. Subsektor ini menjadi penahan penurunan NTP secara keseluruhan.

Lebih lanjut, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) NTT tercatat sebesar 105,09 atau naik sebesar 0,34 persen dibanding November 2025 yang berjumlah 104,73.

Matamira menjelaskan NTUP merupakan perbandingan antara indeks terima terhadap biaya produksi dan penambahan barang modal yang merupakan komponen indeks bayar.

Sementara itu, pada Desember 2025, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di NTT juga mengalami kenaikan sebesar 0,60 persen (month to month/mtm) dan 2,13 persen (year to year/yoy).