Hindari isu etnis agama dalam pilkada
Rabu, 17 Januari 2018 17:33 WIB
Antropolog Pater Gregor Neonbasu SVD, PhD
Kupang (Antaranews NTT) - Antropolog dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Pater Gregorius Neonbasu SVD, PhD meminta para elite politik di daerah ini dapat menghindari isu etnis dan agama dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur pada Pilkada 2018.
"Dalam rana antropologi politik NTT, pada setiap pemilihan gubernur, selalu mengemuka dua hal utama yakni etnik dan agama. Isu ini harus bisa dihindari," kata Pater Gregorius Neonbasu kepada Antara di Kupang, Rabu.
Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan isu etnik Flores, Sumba dan Timor serta agama yang selalu mengemuka dalam setiap momentum pelaksanaan Pilgub NTT dan bagaimana upaya menghindarinya.
Menurut dia, para calon selalu bermain di sela-sela dua matra yakni etnik dan agama untuk meraih kemenangan dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.
"Politik uang dan digunakan untuk memetakan pemilih NTT atas dua kelompok tersebut yakni etinis, agama dan juga kepentingan pragmatisme," katanya.
Mengenai ruang konsensus antarcalon, dia mengatakan, jika dilihat dari para calon yang mendaftar, hanya empat bakal pasangan calon yang berasal dari dua etnik sehingga ruang untuk konsensus sangat terbuka.
"Ruang konsesus sangat terbuka, karena dari delapan calon, empat berasal dari etnik Timor dan empat etnik Flores," kata rohaniawan Katolik itu.
Misalnya, empat bakal calon dari etnik Timor bisa saja membangun konsesus menyatukan suara untuk satu figur, dan sebaliknya empat calon yang berasal dari etnik Flores menyatukan suara untuk salah satu di antara mereka.
"Hal seperti itu bisa saja terjadi, dan jika seperti itu maka isu etnik, agama dan kepentingan akan digunakan secara serentak dalam hajatan politik lima tahunan itu," katanya.
Karena itu, dia berharap, para politisi dapat memberikan pendidikan politik yang baik kepada rakyat, untuk memilih pemimpin yang bisa membawa perbaikan untuk daerah ini lima tahun ke depan, tanpa melihat latar belakang etnik dan agama.
Dia menambahkan, suasana dan budaya politik NTT menjelang Pilgub 2018 ini kacau balau karena parpol pandai bermain uang serta selalu bongkar pasang para calon tanpa memperhatikan dua hal elementer yakni kader dan simpatisan.
"Dalam rana antropologi politik NTT, pada setiap pemilihan gubernur, selalu mengemuka dua hal utama yakni etnik dan agama. Isu ini harus bisa dihindari," kata Pater Gregorius Neonbasu kepada Antara di Kupang, Rabu.
Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan isu etnik Flores, Sumba dan Timor serta agama yang selalu mengemuka dalam setiap momentum pelaksanaan Pilgub NTT dan bagaimana upaya menghindarinya.
Menurut dia, para calon selalu bermain di sela-sela dua matra yakni etnik dan agama untuk meraih kemenangan dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.
"Politik uang dan digunakan untuk memetakan pemilih NTT atas dua kelompok tersebut yakni etinis, agama dan juga kepentingan pragmatisme," katanya.
Mengenai ruang konsensus antarcalon, dia mengatakan, jika dilihat dari para calon yang mendaftar, hanya empat bakal pasangan calon yang berasal dari dua etnik sehingga ruang untuk konsensus sangat terbuka.
"Ruang konsesus sangat terbuka, karena dari delapan calon, empat berasal dari etnik Timor dan empat etnik Flores," kata rohaniawan Katolik itu.
Misalnya, empat bakal calon dari etnik Timor bisa saja membangun konsesus menyatukan suara untuk satu figur, dan sebaliknya empat calon yang berasal dari etnik Flores menyatukan suara untuk salah satu di antara mereka.
"Hal seperti itu bisa saja terjadi, dan jika seperti itu maka isu etnik, agama dan kepentingan akan digunakan secara serentak dalam hajatan politik lima tahunan itu," katanya.
Karena itu, dia berharap, para politisi dapat memberikan pendidikan politik yang baik kepada rakyat, untuk memilih pemimpin yang bisa membawa perbaikan untuk daerah ini lima tahun ke depan, tanpa melihat latar belakang etnik dan agama.
Dia menambahkan, suasana dan budaya politik NTT menjelang Pilgub 2018 ini kacau balau karena parpol pandai bermain uang serta selalu bongkar pasang para calon tanpa memperhatikan dua hal elementer yakni kader dan simpatisan.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Antropolog: Sinergi pendidik-orang tua harus kuat dalam penguatan karakter
30 November 2020 13:39 WIB, 2020
Antropolog : Penyelesaian melalui jalur adat belum sentuh akar masalah
18 September 2018 11:49 WIB, 2018
Antropolog: Sulit kawasan wisata jadi populer tanpa adanya promosi
12 September 2018 11:22 WIB, 2018
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
Polisi membenarkan ada dua laporan terhadap Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin
29 January 2026 10:42 WIB