
Gubernur NTT mendorong program OVOP perkuat hilirisasi pangan lokal

Kupang, NTT (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mendorong program one village one product (OVOP) di desa-desa memperkuat hilirisasi pangan lokal dan pemberdayaan UMKM berbasis potensi daerah.
"Kalau desa punya produk unggulan sendiri dan diolah dengan baik, maka nilai tambah ekonomi akan kembali ke masyarakat desa," katanya saat menutup pelatihan dan penyerahan alat produksi emping jagung di Desa Nobi-Nobi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sebagaimana keterangan, yang diterima di Kupang, NTT, Jumat.
Melki mengatakan program tersebut menjadikan Desa Nobi-Nobi sebagai model pengembangan ekonomi desa berbasis olahan jagung melalui produksi emping jagung yang dipersiapkan masuk pasar modern dan jaringan pemasaran NTT Mart.
Melki mengatakan pendekatan pembangunan desa di NTT mulai diarahkan tidak hanya pada produksi bahan mentah, tetapi juga hilirisasi hasil pertanian agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Menurut dia, jagung yang sebelumnya dijual curah dengan harga murah dapat meningkat nilainya setelah diolah dan dikemas secara menarik.
"Kalau dikemas baik dan dipasarkan dengan benar, masyarakat mendapat keuntungan lebih besar. Ini yang sedang kita dorong di desa-desa," ujarnya.
Ia menilai penguatan produk pangan lokal sejalan dengan agenda nasional memperkuat ketahanan pangan, pengembangan UMKM, dan pemerataan ekonomi dari desa.
Karena itu, pemerintah provinsi mulai mengintegrasikan program OVOP dengan jaringan pemasaran daerah agar produk UMKM desa memiliki akses pasar yang lebih luas.
"Emping jagung dari Nobi-Nobi nanti dipasarkan melalui NTT Mart supaya dikenal sebagai produk khas TTS," katanya.
Selain itu, Pemprov NTT juga menjalankan program bantuan sekitar Rp100 juta per desa bagi desa yang memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan melalui pelatihan, penyediaan alat produksi, pendampingan usaha, dan akses pemasaran.
Melki menyebut seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemprov NTT diwajibkan memiliki desa pendamping sebagai bagian dari percepatan pembangunan desa.
"Pada tahap awal, ada sekitar 120 desa yang dibantu. Kita ingin perubahan ekonomi benar-benar bergerak dari desa," katanya.
Ia juga memperluas konsep tersebut ke sektor pendidikan melalui program one school one product, yang mendorong setiap SMA dan SMK memiliki produk unggulan sesuai potensi daerah masing-masing.
Sementara itu, Bupati Timor Tengah Selatan Eduard Markus Lioe mengatakan program pelatihan dan bantuan alat produksi menjadi momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan di desa.
Menurut dia, selama ini masyarakat TTS memiliki potensi pertanian dan kerajinan yang besar, namun terkendala pemasaran dan distribusi produk.
"Kita ingin produk masyarakat tidak berhenti di desa, tetapi bisa masuk pasar modern dengan kualitas dan legalitas yang baik," katanya.
Ia meminta perangkat daerah terkait membantu UMKM mengurus legalitas produk, sertifikasi halal, hingga standar kemasan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
