Pemberitaan negatif tak akan pengaruhi kunjungan turis ke TNK

id Pulau Komodo

Pemberitaan negatif tak akan pengaruhi kunjungan turis ke TNK

Seekor Komodo (Varanus Komodoensis) sedang berjemur di pesisir pantai Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, pada Minggu (22/9/2019). Populasi hewan purba tersebut di Pulau Komodo saat ini mencapai 1.500 ekor. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha).

"Pemberitaan media daring itu tidak akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke NTT. Kecuali ada satu gerakan besar yang ingin memboikot kawasan wisata Pulau Komodo," kata Dr Fritz E. Fanggidae.
Kupang (ANTARA) - Masuknya Pulau Komodo dalam daftar kawasan wisata yang tak layak dikunjungi wisatawan pada 2020 oleh salah satu media traveling di Amerika Serikat (AS), sama sekali tak mempengaruhi arus kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo (TNK) di ujung barat Pulau Flores, NTT itu.

"Pemberitaan media daring itu tidak akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke NTT. Kecuali ada satu gerakan besar yang ingin memboikot kawasan wisata Pulau Komodo," kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Dr Fritz E. Fanggidae kepada ANTARA di Kupang, Jumat (22/11).

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan adanya pemberitaan yang disampaikan oleh situs tentang informasi perjalanan dan wisata asal Amerika Serikat, Fodor's, yang menyebutkan bahwa Pulau Komodo dan Bali menjadi lokasi tujuan wisata yang tak disarankan pada 2020.

Khusus Pulau Komodo, Fodor's Travel mengamati pulau itu sebagai destinasi dengan harga wisata yang terlalu murah, dan patut menaikkan pajak turis untuk kelestarian hewan langka Komodo.

Menurut Fritz, penilaian soal pariwisata tidak tergantung pada situs Fodor's tersebut karena banyak wisatawan sudah lebih pintar dan bisa memilih sendiri kemana mereka akan berwisata.

Baca juga: Artikel - Mencari Bintang Film Titanic jadi duta promosi Labuhan Bajo
Baca juga: Perlu ada paket wisata bagi wisatawan berkantong tipis dalam TNK

Fritz menilai bahwa refrensi soal pariwisata itu bukanlah terhadap media yang dibaca, tetapi lebih pada informasi pribadi yang bisa diperoleh dari media sosial atau sejenisnya.

"Informasi pariwisata kita (NTT) jauh lebih baik dari informasi yang diberikan oleh media daring asal Amerika Serikat tersebut," tutur Fritz.

Fritzpun menambahkan bahwa pemberitaan yang disampaikan situs daring dari AS tersebut juga merupakan bagian dari dinamika pasar yang harus dihadapi.

"Jadi tidak usah berpikir bahwa secara sistematis akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke daerah ini," tambah dia.

Sementara itu pengamat ekonomi dari International Fund for Agricultural Development (IFAD), Dr James Adam MBA menilai bahwa langkah yang paling tepat adalah menyiapkan spot lain di dalam kawasan Taman Nasional Komodo sebagai pengganti dari pemberitaan terkait Pulau Komodo itu.

Menurut dia, jika Pulau Komodo tidak menjadi referensi maka ada kawasan wisata lain yang bisa menjadi lokasi melihat Komodo di kawasan Taman Nasional Komodo itu.

Lokasi-lokasi tertentu yang disiapkan pemerintah ini, penting agar wisatawan dari berbagai latar belakang bisa berkunjung ke Taman Nasional, walaupun hanya bisa melihat alam di Labuan Bajo pada titik-titik tertentu.

Baca juga: Pemda NTT harus tanggapi wisata Pulau Komodo masuk No List
Baca juga: Artikel - Pulau Komodo menuju wisata kelas dunia
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar