
Pasokan Umpan Ikan Menurun Akibat Cuaca

Pasokan umpan ikan untuk nelayan setempat menurun akibat kondisi cuaca buruk.
Kupang (Antara NTT) - Kepala Humas Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Abdul Wahab Sidin, mengatakan pasokan umpan ikan untuk nelayan setempat menurun akibat kondisi cuaca buruk.
"Umpan yang biasa dipakai itu yang kecil-kecil seperti ikan tembang dan sejenisnya yang banyak didatangkan dari Larantuka, Flores Timur namun sekarang tidak banyak bahkan mereka di sana juga alami kekurangan akibat kondisi cuaca buruk," katanya saat dihubungi Antara di Kupang, Selasa.
Wahab yang juga nelayan yang berbasis di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Tenau Kota Kupang itu mengatakan, pasokan umpan dari Larantuka banyak digunakan nelayan setempat karena kondisi fisik ikan yang lebih tahan lama dibanding yang didapat dari nelayan setempat.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi HNSI NTT itu mengatakan, umpan-umpan ikan dari nelayan Larantuka kemudian diambil nelayan setempat terutama untuk kebutuhan kapal-kapal nelayan tuna dan cakalang saat melaut.
"Sebelumnya satu kapal bosa ambil sampai lebih dari tiga ember karena hitungannya per ember sekitar 20an kilogram, tapi sebulan terakhir ini pasokan kurang sekali paling hanya satu ember, ada yang tidak dapat sama sekali," katanya.
Menurut Wahab, kekurangan pasokan umpan dikarenakan kondisi cuaca buruk di perairan itu menyebabkan kapal-kapal nelayan tuna dan cakalang yang berbasis di Kota Kupang dengan jumlah sekitar 21 kapal tidak melaut.
Dengan begitu, katanya, pasokan ikan tuna dan cakalang untuk pasaran Kota Kupang berkurang sehingga membuat harganya relatif lebih mahal karena dibeli dari pabrik berupa ikan beku.
"Pasokan ikan di pasaran juga kebanyakan ikan-ikan yang kecil dari nelayan lampara yang melaut di perairan dekat," katanya.
Wahab mengatakan, terus memantau kondisi cuaca di perairan juga pasokan umpan dari nelayan Larantuka sehingga ketika membaik maka kapal-kapal nelayan tuna dan cakalang bisa kembali melaut.
Sebelumnya, Sekretaris HNSI Provinsi Nusa Tenggara Timur Wahid Wham Nurdin mengatakan, umumnya nelayan di provinsi kepulauan itu tidak melaut akibat cuaca buruk yang disebutnya nelayan setempat dengan musim timur.
Namun, katanya, musim timur terjadi saat ini terjadi lebih awal dibanding sebelumnya yang umumnya terjadi saat memasuki bulan Juli sampai September setiap tahun.
"Kami juga belum tahu kapan kondisi cuaca buruk ini membaik, karena kalau seperti ini terus maka musim timur kali ini jauh lebih lama dan nelayan juga sulit melaut," katanya Wham Nurdin yang juga nelayan yang berbasis di TPI Tenau itu.
Ia mengatakan, kondisi cuaca buruk itu menyebabkan para nelayan Kota Kupang berpindah lokasi melaut menuju wilayah utara perairan Pulau Timor di sekitar Atapupu, Kabupaten Belu maupun perairan perbatasan negara dengan Timor Leste.
"Banyak nelayan di sini melaut ke utara Pulau Timor karena di sana kondisinya lebih teduh dibanding wilayah selatan yang masih dilanda gelombang tinggi dan angin kencang," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
