Khatib Abdullah: Hormati Perbedaan

id Idul Adha

Khatib Abdullah: Hormati Perbedaan

Umat muslim di Kota Kupang, Jumat (1/9) menyemut di Lapangan Makorem 161/Wirasakti Kupang untuk merayakan peringatan Idul Adha 1438 Hijriah. (Foto ANTARA/Hironimus Bifel)

Umat muslim diajak untuk terus merawat keberagaman dengan menghargai dan menghormati perbedaan antarumat beragama dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.
Kupang (Antara NTT) - Khatib Nurdin Abdullah mengajak umat muslim untuk terus merawat keberagaman dengan menghargai dan menghormati perbedaan antarumat beragama dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

"Idul Adha pada pagi hari ini merupakan momentum untuk memperbaharui tingkat pengurbanan setiap jamaah dan meneladani sosok Nabi Ibrahim yang diakui semua agama samawi karena beliau mengumandangkan saling menghormati dalam keberagaman," katanya di Kupang, Jumat.

Khatib Abdullah mengatakan hal itu saat memberikan khotbah pada peringatan Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah di Lapangan Makorem 161/Wirasakti Kupang yang dihadiri ratusan jemaah.

Ia mengatakan dalam hidup ini sesungguhnya ada tiga hal utama yang harus dilakukan umat manusia seperti beragama, percaya dan bertaqwa kepada Allah pencipta manusia dan alam semesta.

"Setiap orang wajib menyembah dan sujud kepada Allah sebagai dimensi spiritual yang melahirkan ketaqwaan pribadi dan kesahian pribadi," katanya.

Tujuan kedua kehadiran setiap umat manudia di muka bumi ini adalah saling kenal dan mengenal bahkan saling memahami satu dengan yang lainnya dalam hidup bersama.

"Ini sebagai dimensi sosial yang senantiasa melahirkan ketaqwaan sosial dalam berbagai keberagaman antara satu dengan yang lainnya seperti diteladani Nabi Ibrahim.

Sebab Nabi Ibrahim terkenal sebagai "Bapak Monoteisme" karena beliau mengumandangkan "Hai manusia, Tuhan yang kamu sembah adalah Tuhan sekalian Alam, bukan Tuhan satu ras, bukan Tuhan satu kelompok dan bangsa tertentu".

Dan tujuan ketiga adalah setiap manusia seperti di atas itu selalu diuji tingkat keimanannya, ke-Islamannya. "Tujuan ini akan melahirkan manusia-manusia Istiqomah dalam menghadapi kehidupan yang terkadang tidak ada kesesuaian antara harapan dan kenyataan," katanya.

Ketiga tujuan ini merupakan satu kesatuan sistem yang akan menjadi parameter kualitas hidup dan keagamaan seseorang dan apabila mengabaikan salah satu tujuan tersebut maka akan melahirkan kepincangan dari ajaran kedamaian dan toleransi itu sendiri.

"Apabila tiga tujuan tersebut telah menyatu dalam kepribadian seseorang maka orang-orang itu sesungguhnya telah meraih kemenangan hakiki dan sukses dalam menjalankan visi dan misi kehidupannya," katanya.

Nabi Ibrahim bersama keluarganya telah berhasil melaksanakan tiga tujuan itu dengan penuh kearifan, kedamaian serta sarat dengan toleransi terhadap keberagamgan itu sendiri.

"Memang dalam kehidupan nyata senantiasi berbicara bahwa ada di antaranya kita yang terkadang mengutamakan diri dan mengabaikan kepekaannya terhadap sesama sehingga mencerminkan sikap dan pemahaman secara individualistis dan bukan versi Allah dan rasulnya," katanya.

Karena Allah telah menegaskan bahwa apabila ada orang yang menghardik anak yatim-piatu dan mengabaikan orang-orang miskin dan lapar maka mereka merupakan orang-orang yang mendustakan agamanya sendiri.

Bahkah Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam sabda-Nya, bahwa sangat tidak dibenarkan apabila seseorang makan dengan kenyang di tengah-tengah tetangganya yang tidak bisa tidur karena lapar.

Bertolak dari hadis itulah maka jika nabi sebelumnya mengajarkan kaumnya agar menyembah Allah dengan sebutan "Tuhan Kamu".

Maka setelah datang Nabi Ibrahim diajarkan bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan seru sekalian alam. Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan semua langit dan bumi (alam raya) QS Al-An`am (6):79).

Pada peringatan Idul Qurban di Lapangan Makorem 161/Wirasakti Kupang itu bertindak sebagai Imam adalah Syukur Ahmad, Wakil Imam H Muhammad Gaus, Wakil Khatib Bahrul Ulum, Bilal H Supardi dan wakil bilal Rakimin Maleng.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar