Budidaya rumput laut belum digarap maksimal

id rumput laut

Budidaya rumput laut belum digarap maksimal

Petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur baru menggarap sekitar 9.500 hektare lahan dari luas areal potensial pengembangan tanaman rumput laut sekitar 51.000 hektare. (ANTARA Foto/dok)

Wilayah perairan Nusa Tenggara Timur yang potensial untuk budidaya tanaman rumput laut mencapai sekitar 51.000 hektare, namun baru dimanfaatkan masyarakat pesisir sekitar 9.500 hektare.
Kupang (AntaraNews NTT) - Wilayah perairan Nusa Tenggara Timur yang potensial untuk budidaya tanaman rumput laut mencapai sekitar 51.000 hektare, namun baru dimanfaatkan masyarakat pesisir sekitar 9.500 hektare.

"Data terakhir hingga 2016 menunjukkan bahwa luas lahan budidaya rumput laut di wilayah pesisir NTT baru sekitar 9.500 hektare dengan tingkat produksi 15 juta ton rumput laut basah," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Ganef Wurgiyanto kepada Antara di Kupang, Selasa (20/3).

DKP mencatat, luas lahan potensial rumput laut di provinsi ini mencapai 51.000 hektare lebih atau sekitar 5 persen dari garis pantai dengan potensi produksi sebesar 187.500 ton kering per tahun.

Ganef menyebut, sejumlah kabupaten yang budidaya rumput lautnya telah berkembang seperti Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur, dan Manggarai Barat.

Komunitas rumput laut unggulan yang dibudidaya seperti jenis eucheuma cotoni, eucheuma Sp, dan red algae (alga merah). "Potensi rumput laut kita cukup besar dengan kualitas terbaik, hanya saja luas lahan yang dimanfaatkan masyarakat masih kecil," katanya.

Baca juga: DKP Rampungkan Desain Pengembangan Rumput Laut
Baca juga: Kabupaten Kupang Dominasi Rumput Laut di NTT
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Ganef Wurgiyanto (ANTARA Foto/Aloysius Lewokeda)

Ia mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong agar provinsi dengan luas wilayah laut mencapai 200.000 kilometer persegi itu menjadi pusat rumput laut di Indonesia.

"Untuk dalam berbagai kesempatan kami terus meminta masyarakat kita agar mulai mengusahakannya, bahkan dengan fasilitas sederhana saja bisa dimulai mengingat potensi kita sangat menjanjikan ini," katanya.

Lebih lanjut, Mantan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP NTT itu mengemukakan, telah menyiapkan desain pengembangan rumput laut di daerah ini yang dibagi dalam lima klaster.

Ke lima klaster itu di antaranya, klaster Kupang meliputi wilayah Pulau Timor dan Rote, klaster Sumba Timur meliputi seluruh wilayah Pulau Sumba.

Selain itu, klaster Lembata meliputi Kabupaten Alor, Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Sika, serta klaster Manggarai meliputi sejumlah kabupaten di bagian barat Pulau Flores dari Manggarai Barat hingga Ende.

Menurutnya, pembagian klaster itu penting agar pengembangan rumput laut dilakukan dari hulu hingga hilir atau dari tahapan produksi hingga ekspor.  "Sehingga para investor juga tahu potensi besar kita yang terbuka untuk diinvestasikan," katanya.
Baca juga: DKP Fokus Budidaya Rumput Laut
Baca juga: Rumput laut NTT baru dikelola 15 persen