Debat Cagub bukan soal tanya jawab

id debat

Debat terbuka para kandidat Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023 (ANTARA Foto/dok)

"Bagi saya, debat bukan soal bertanya dan menjawab tapi bagaimana profil leadershif yang memberikan jaminan akan masa depan daerah ini lima tahun ke depan," kata Ahmad Atang.
Kupang (AntaraNews NTT) - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi berpendapat, debat calon gubernur-wakil gubernur bukan soal bertanya dan menjawab.

"Bagi saya, debat bukan soal bertanya dan menjawab tapi bagaimana profil leadershif yang memberikan jaminan akan masa depan daerah ini lima tahun ke depan," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Rabu (15/5).

Dia mengemukakan hal itu, terkait banyaknya penilaian miring seputar debat calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023, yang disiarkan langsung dari stasiun televisi iNews Jakarta.

Menurut dia, tampilnya empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT dalam arena debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) bukanlah sekedar mejeng di televisi, tetapi membangun simbol daerah soal siapa pemimpin yang layak.

"Jadi bukan hanya layak untuk dirinya sendiri tapi layak untuk NTT dan Indonesia. Mengenai bobot, dia mengatakan, untuk memberikan bobot pada debat adalah soal kesiapan pasangan calon untuk tampil dalam acara debat.

Menurut dia, mekanisme dan materi debat sudah sesuai standar, namun bobotnya harus ada pada jawaban pasangan calon. Para pasangan calon harus keluar dari tekanan psikologis dan kultural antarpasangan.

Baca juga: Pilkada 2018 - Antropolog: Materi debat cagub NTT sudah bagus

"Debat ini tampilan kualitas kepemimpinan bukan sekedar tampilan personaliti.? Paslon harus lebih serius menunjukan bahwa mereka bisa jadi pemimpin daerah ini," katanya.

Dia menambahkan, jika ada penilaian bahwa debat Cagub NTT seperti orang membaca injil karena terpaku pada teks yang sudah disiapkan adalah sah-sah saja.

"Bagi saya penilaian seperti itu sah-sah saja karena debat publik yang dilaksanakan oleh KPU terhadap pasangan calon dalam rangka membangun persepsi publik. Dengan demikian, penilaian menjadi sangat variatif," katanya.

Namun yang menjadi soal ketika mekanisme debat mulai dari model soal,? argumen paslon dalam merespon jawaban tentu bagi pengamat yang akademis memiliki persepsinya yang bertumpu pada mekanisme akademik bukan politis, katanya.

Dia mengatakan, sebagai pelajaran pengamat dirinya tidak bisa menilai pengamat yang lain tapi standar untuk menganalisis sesuatu tentu tidak keluar dari domain akademik.

Karena itu,? bagi saya kembali kepada paslon dalam memberikan respon. Sebagus apapun soal yang dibuat tapi tidak direspon secara memuaskan akan menjadi penilaian publik, katanya menjelaskan.
Baca juga: Debat kedua Cagub NTT biasa-bisa saja
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar