
Perempuan NTT kesulitan mengakses pinjaman modal perbankan

...Salah satu penyebab kemiskinan di NTT karena kaum perempuan tidak diberikan peran yang lebih dalam membangun ekonomi keluarga
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur, Lien Adriany menegaskan kaum perempuan di daerah itu selama ini kesulitan mendapatkan akses pinjaman modal di bank sehingga kesulitan dalam membangun ekonomi keluarga secara mandiri.
"Salah satu penyebab kemiskinan di NTT karena kaum perempuan tidak diberikan peran yang lebih dalam membangun ekonomi keluarga. Semuanya didominasi para suami sebagai kepala rumah tangga, untuk mendapatkan modal usaha dari perbankan saja sangat sulit karena agunan untuk pinjaman modal usaha atas nama suami,"kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur, Lien Adriany di Kupang, Kamis, (17/3).
Lien Adriany mengatakan hal itu dalam kegiatan lokakarya yang menandai dimulainya program Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods (Lans4Lives) bertajuk "lahan untuk kehidupan, bersama mewujudkan penghidupan berketahanan iklim di NTT ".
Proyek tersebut adalah proyek kerja sama riset aksi berlangsung lima tahun mulai 2021-2026 di tiga provinsi yaitu, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur dengan sasaran untuk pemberdayaan masyarakat terutama perempuan dan anak dalam meningkatkan penghidupan ekonomi keluarga melalui pelestarian lingkungan.
Menurut dia berdasarkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa akses bagi kaum perempuan di NTT untuk mendapatkan permodalan bank sangat susah, karena semua dokumen yang erat kaitannya untuk jaminan pinjaman bank atas nama laki-laki.
"Sertifikat tanah saja yang bisa dijadikan sebagai agunan di bank atas nama suami. Kondisi seperti ini terjadi di NTT sehingga kaum perempuan tidak bisa bergerak leluasa dalam mencari modal untuk membangun usahanya secara mandiri," kata Lien Adriany.
Ia mengatakan, seharusnya sudah banyak kaum perempuan di provinsi berbasis kepulauan ini yang bisa sukses dalam mengembangkan usaha namun karena tidak bisa mendapatkan akses permodalan sehingga pembangunan ekonomi menjadi tidak berkembang.
Lien Adriany berharap dalam program yang dilakukan ICRAF di Kabupaten Timor Tengah Selatan melibatkan banyak kaum perempuan dan anak sebagai fokus utama sehingga memiliki dampak positif terhadap pemberdayaan ekonomi kaum perempuan.
"Kita berharap kelompok-kelompok marjinal yang menjadi tulang punggung keluarga agar diberdayakan secara ekonomi melalui program ICRAF, sehingga ekonomi keluarga mereka menjadi lebih mapan," tegasnya.
Baca juga: Sosok perempuan super masa kini
Baca juga: Erick Thohir ajak perempuan pra sejahtera Tanjung Pinang ikut Program Mekaar
Pewarta : Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor:
Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
