Gubernur ancam patahkan kaki bagi pelaku perdagangan orang

id Gubernur NTT

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat saat diwawancara oleh sejumlah wartawan di gedung DPRD NTT, Senin (10/9). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)

Gubernur NTT Viktor B Laiskodat mengancam akan "mematahkan kaki" pelaku perdagangan orang (human trafficking) karena kasus tersebut sudah meresahkan masyarakat di provinsi berbasis kepulauan itu
Kupang (AntaraNews NTT) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor B Laiskodat mengancam akan "mematahkan kaki" pelaku perdagangan orang (human trafficking) karena kasus tersebut sudah meresahkan masyarakat di provinsi berbasis kepulauan itu

"Pak Kapolda NTT, Pak Danrem nanti kita duduk dan berbicara bersama tentang masalah ini," katanya dalam pidato pertama di hadapan pejabat daerah NTT di Kupang, Senin (10/9).

Namun pada intinya ia meminta agar Kapolda NTT beserta jajarannya, Danrem serta jajarannya untuk "mematahkan kaki" para pelaku perdagangan orang itu.

"Kalau kakinya sudah dipatahkan, datang dan berikan kepada gubernur, biar gubernur yang kasih uang," katanya.

Pada kesempatan itu ia juga menyampaikan sudah mengeluarkan moratorium TKI asal NTT, karena masalah itu sudah memperbudak masyarakat NTT.

Politisi NasDem itu mengatakan akan mengembalikan sejumlah TKI asal NTT dan memberikan pekerjaan agar bisa membangun dan mengelola daerah sehingga lebih maju dan tak tertinggal.

Baca juga: Gubernur janji kembangkan kelor menjadi sumber devisa
Baca juga: Gubernur janjikan kapal pembersih sampah untuk Kota Kupang


"Mereka akan diberdayakan dan diberi modal kerja untuk berwirausaha," katanya

Di hadapan para bupati dan wakil bupati se-NTT, ia menegaskan bahwa moratorium it harus dilakukan karena setiap tahun angka kematian TKI asal NTT terus bertambah.

Pada tahun 2017, jumlah TKI yang jenazahnya dikirim pulang berjumlah 62 orang, sementara pada tahun 2018 sampai Agustus sudah ada 72 TKI yang jenazahnya dikembalikan ke NTT.

"Ini bukan masalah angka, namun hal tersebut merupakan sesuatu yang serius, yang perlu dibasmi hingga ke akar-akarnya," katanya.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar