Selasa, 26 September 2017

Investasi Tebu di Sumba Timur Rp2,4 Triliun

id Gula
Investasi Tebu di Sumba Timur Rp2,4 Triliun
Semuel Rebo
PT Muria Sumba Manis (MSM) menanamkan investasinya sebesar Rp2,4 triliun untuk mengembangan tanaman tebu dan pembangunan pabrik gula di Kabupaten Sumba Timur.
Kupang (Antara NTT) - PT Muria Sumba Manis (MSM) menanamkan investasinya sebesar Rp2,4 triliun untuk mengembangan tanaman tebu dan pembangunan pabrik gula di Kabupaten Sumba Timur untuk mendukung peningkatan produksi gula di dalam negeri.

"Hingga Juli 2017, PT MSM telah merealisasikan sekitar Rp400 miliar untuk kegiatan penanaman dan pengembangan bahan baku gula yang selanjutnya akan diikuti dengan pembangunan pabrik," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo kepada Antara di Kupang, Jumat (25/8).

Menurut Semuel Rebo, PTS MSM merupakan salah satu investor terbesar di NTT saat ini yang diyakini akan menjawab dan mengatasi keluhan petani tebu karena rendahnya harga gula pasir sehingga petani tidak akan beralih ke usaha lainnya yang bisa mengancam rencana swasembada gula nasional.

Sebab, menurut dia, selain pengembangan perkebunan tebu dan pabrik gula, perusahaan ini juga akan membangun pembangkit listrik yang berbahan bakar limbah tebu.

"Secara tidak langsung, kehadiran PT MSM tersebut akan mendorong perekonomian dan daya beli masyarakat di NTT, khususya di Sumba Timur," katanya.

Bahkan, kata dia, perusahaan ini menyerap cukup banyak tenaga kerja lokal. Selain itu, karena memproduksi gula dalam jumlah besar hingga ribuan ton per minggu maka diperlukan perhatian pemerintah untuk membangun pelabuhan yang lebih besar untuk menunjang produksi perusahaan ini.

Ia juga berharap, kehadiran PT MSM akan menjadi lokomotif untuk menarik investor-investor lain untuk berinvestasi di NTT. "Saat ini sudah investor yang akan kembangan tebu di daratan Timor, terutama di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Utara," katanya.

Selain tebu, kata dia, NTT memiliki banyak potensi di bidang pertanian, seperti pengembangan Jarak Tapia yang dikembangkan di Sumba Timur. "Ini sangat baik karena merupakan bahan campuran bahan bakar, khususnya untuk pelumas dan oli," katanya.

Saat ini juga kata dia sudah ada investor yang kembangkan ratusan hektar dan hasilnya sudah dikirim keluar NTT. "Saya kira ini salah satu potensi yang akan dilirik oleh investor," ujarnya.

Hingga saat ini masyarakat sedang dipersiapkan untuk menanam jagung sebagai bahan baku gula karena lahan NTT sangat cocok bagi tumbuh kembangnya jagung.

"Diharapkan dengan produksi jagung yang terus meningkat, para investor juga berminat untuk membuat gula dari jagung. Kita harus menyatakan dukungan atas kehadiran investor ini," katanya.

Ia meminta agar Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (APEGTI) ikut menjaga stabilitas harga gula di pasaran dan terus membangun koordinasi dengan Bulog agar stok gula tetap terjamin.

200 hektare
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Nusa Tenggara Timur Yohanes Tay Ruba mengatakan PT MSM membuka sekitar 200 hektare lahan tebu di Sumba Timur untuk mendukung produksi gula di dalam negeri.

"Perusahaan itu menggunakan selang sebagai media untuk irigasi tetes, dengan memanfaatkan sumber air di sekitarnya serta cekdam yang ada," katanya.

"Hasilnya luar biasa dan saat ini sudah mulai berproduksi," katanya dan menjelaskan kehadiran perusahaan tersebut di Sumba Timur secara tidak langsung mendorong perekonomian dan daya beli masyarakat setempat. 

Bahkan, kata dia, perusahaan ini menyerap cukup banyak tenaga kerja lokal, serta memproduksi ribuan ton gula per minggu sehingga perlu dipersiapkan fasilitas pelabuhan yang memadai untuk mendukung kegiatan usaha tersebut..

Editor: Laurensius Molan

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga