Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Mei 2026 mencapai 99,86 atau meningkat 0,45 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 99,41.
“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,52 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,06 persen,” kata Kepala BPS NTT Matamira B. Kale di Kupang, Selasa.
NTP merupakan indikator utama untuk mengukur daya beli dan tingkat kesejahteraan petani di pedesaan.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan NTP dipengaruhi meningkatnya kinerja hampir seluruh subsektor pertanian, kecuali subsektor peternakan yang mengalami penurunan 0,09 persen.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,66 persen, diikuti hortikultura 0,44 persen, perikanan 0,18 persen, dan tanaman pangan 0,12 persen.
Adapun komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan NTP antara lain kakao atau cokelat biji, kopi, vanili, kemiri, jagung, dan kacang hijau.
Lebih lanjut, ia mengatakan BPS juga mencatat pada komponen indeks harga yang dibayar petani, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) meningkat 0,08 persen, sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal turun 0,15 persen.
IKRT petani pedesaan pada Mei 2026 tercatat sebesar 122,72 atau naik 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga,” katanya.
Komoditas yang memberikan andil besar terhadap kenaikan IKRT antara lain kopi, minyak goreng, beras, dan bawang merah.
Matamira juga menyampaikan, secara tahunan (year-on-year), perkembangan IKRT Mei 2026 terhadap Mei 2025 tercatat meningkat sebesar 2 persen.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Mei 2026 tercatat sebesar 104,86 atau naik 0,66 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 104,17.
“Secara umum, kondisi ini menunjukkan perbaikan daya tukar petani serta kemampuan usaha rumah tangga pertanian di wilayah NTT,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan NTUP dipengaruhi kenaikan pada hampir seluruh subsektor pertanian, kecuali subsektor peternakan yang mengalami sedikit penurunan.