Pemerintah bentuk empat BUMDes penyangga produksi kelor di Malaka
Senin, 8 Juli 2019 17:50 WIB
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kedua kanan) didampingi Bupati Malaka Stefanus Bria Seran (kanan) mengunjungi lokasi budidaya tanaman kelor di Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, pada Sabtu (6/7/2019). (ANTARA FOTO/Dok. Dinas PMD Provinsi NTT)
Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara membentuk empat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada empat desa sebagai penyangga produksi kelor yang dikelola BUMDes M'rian di Desa Kufeu, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, Pulau Timor.
"Ada empat desa yang BUMDes-nya sudah kami bentuk sebagai penyangga untuk memperkuat produksi kelor yang sudah dikerjakan BUMDes M'rian di Desa Kufeu," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi NTT Sinun Petrus Manuk di Kupang, Senin (8/7).
Ia menyebut keempat BUMDes penyangga tersebar di Kecamatan Io Kufeu tersebut di antaranya di Desa Ikan Tunbes, Desa Biau, Desa Tunmat, dan Desa Tunabesi.
Dijelaskannya, saat ini budidaya tanaman kelor di Kecamatan Io Kufeu sudah dilakukan pada lahan seluas sekitar 80 hektare. "Lahan ini akan bertambah lagi karena di setiap desa penyangga ini akan dikembangkan lagi tanaman kelor masing-masing sekitar 20 hektare," katanya.
Petrus Manuk mengatakan, pihaknya bersama pengelola BUMDes serta pemerintah dari sejumlah desa penyangga telah menyepakati untuk pengadaan fasilitas pengolahan tanam kelor berupa rumah pengering memanfaatkan dana desa sekitar Rp160 juta.
Baca juga: 10 mesin pengering kelor untuk BUMDes di Malaka
Rumah pengering tersebut, lanjutnya, sedang dibangun dan ia berharap dapat diselesaikan pada akhir Juli mendatang sehingga sehingga bisa menyalurkan daun kelor kering ke BUMDes M'rian di Desa Kufeu untuk diolah menjadi aneka produk.
Ia menjelaskan, sejauh ini BUMDes M'rian sudah berhasil mengelola daun kelor menjadi anek produk yang bernilai jual seperti tepung kelor, sabun mandi, dan pelembab tubuh namun dengan kapasitas produksi yang realtif kecil.
"Untuk itu adanya BUMDes-BUMDes penyangga yang dibentuk ini agar produksi lebih meningkat lagi untuk menjawab permintaan pasar dari luar atau ekspor," katanya.
Ia menambahkan, pihaknya juga telah menambah bantuan satu mesin penepung untuk BUMDes M'rian yang selama ini kesulitan memproduksi dalam jumlah besar karena keterbatasan mesin penepung yang dimiliki hanya satu unit dengan kapasitas produksi sekitar 10 kilogram per jam.
"Bapak Gubernur (Gubernur NTT Viktor BUngtilu Laiskodat, red) juga sudah meninjau langsung kondisi di lapangan dan beliau menjanjikan akan membantu lagi 10 unit mesin penepung dengan kapasitas yang lebih besar," katanya.
Baca juga: BUMDes Teun di Kabupaten Belu dibantu teknologi pengolahan air minum
Baca juga: BUMDes Fukeu kelola daun kelor jadi aneka produk
"Ada empat desa yang BUMDes-nya sudah kami bentuk sebagai penyangga untuk memperkuat produksi kelor yang sudah dikerjakan BUMDes M'rian di Desa Kufeu," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi NTT Sinun Petrus Manuk di Kupang, Senin (8/7).
Ia menyebut keempat BUMDes penyangga tersebar di Kecamatan Io Kufeu tersebut di antaranya di Desa Ikan Tunbes, Desa Biau, Desa Tunmat, dan Desa Tunabesi.
Dijelaskannya, saat ini budidaya tanaman kelor di Kecamatan Io Kufeu sudah dilakukan pada lahan seluas sekitar 80 hektare. "Lahan ini akan bertambah lagi karena di setiap desa penyangga ini akan dikembangkan lagi tanaman kelor masing-masing sekitar 20 hektare," katanya.
Petrus Manuk mengatakan, pihaknya bersama pengelola BUMDes serta pemerintah dari sejumlah desa penyangga telah menyepakati untuk pengadaan fasilitas pengolahan tanam kelor berupa rumah pengering memanfaatkan dana desa sekitar Rp160 juta.
Baca juga: 10 mesin pengering kelor untuk BUMDes di Malaka
Rumah pengering tersebut, lanjutnya, sedang dibangun dan ia berharap dapat diselesaikan pada akhir Juli mendatang sehingga sehingga bisa menyalurkan daun kelor kering ke BUMDes M'rian di Desa Kufeu untuk diolah menjadi aneka produk.
Ia menjelaskan, sejauh ini BUMDes M'rian sudah berhasil mengelola daun kelor menjadi anek produk yang bernilai jual seperti tepung kelor, sabun mandi, dan pelembab tubuh namun dengan kapasitas produksi yang realtif kecil.
"Untuk itu adanya BUMDes-BUMDes penyangga yang dibentuk ini agar produksi lebih meningkat lagi untuk menjawab permintaan pasar dari luar atau ekspor," katanya.
Ia menambahkan, pihaknya juga telah menambah bantuan satu mesin penepung untuk BUMDes M'rian yang selama ini kesulitan memproduksi dalam jumlah besar karena keterbatasan mesin penepung yang dimiliki hanya satu unit dengan kapasitas produksi sekitar 10 kilogram per jam.
"Bapak Gubernur (Gubernur NTT Viktor BUngtilu Laiskodat, red) juga sudah meninjau langsung kondisi di lapangan dan beliau menjanjikan akan membantu lagi 10 unit mesin penepung dengan kapasitas yang lebih besar," katanya.
Baca juga: BUMDes Teun di Kabupaten Belu dibantu teknologi pengolahan air minum
Baca juga: BUMDes Fukeu kelola daun kelor jadi aneka produk
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PLN: Listrik masuk desa terpencil NTT bukti negara hadir hingga ke pelosok
27 February 2026 17:02 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
DJP menghimpun Rp1,13 triliun dari pajak sektor usaha digital dalam sebulan
27 February 2026 17:55 WIB
PLN: Listrik masuk desa terpencil NTT bukti negara hadir hingga ke pelosok
27 February 2026 17:02 WIB