Pengungsi asal Afganistan demonstrasi di kantor IOM Kupang
Rabu, 28 April 2021 19:24 WIB
Sejumlah pengungsi asal Afganistan berdemonstrasi di depan Kantor IOM di Kupang, NTT, Rabu (28/4/2021). Mereka yang sudah tinggal selama tujuh tahun di Kupang menuntut agar IOM segera memproses kepindahan mereka ke negara rujukan seperti yang dijanjikan. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Kupang (ANTARA) - Sekitar 20 pengungsi asal Afganistan di Kupang berdemonstrasi di depan Kantor International Organization for Migration (IOM) Kupang menuntut kejelasan kapan akan dipindahkan ke negara rujukan.
Seorang imigran bernama Kubra Hasani ditemui ANTARA di Kupang, Rabu, (28/4) mengatakan, mereka hanya ingin bertemu dengan perwakilan IOM Kupang, untuk menanyakan kejelasan akan waktu kepindahan mereka kenegara rujukan.
"Kami datang sebenarnya baik-baik saja, tetapi mereka malah mengunci diri di dalam gedung dan tak mau keluar dari gedung untuk bertemu kami," katanya.
Kubra mengaku dia sudah berada di Kupang sejak 2013 lalu. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan kapan mereka akan dipindahkan ke negara rujukan dari IOM.
Pasalnya mereka mengkhawatirkan nasib anak-anak mereka yang hingga saat ini tidak bisa sekolah akibat terkendala status mereka masih sebagai pengungsi.
Selama dua tahun terakhir, ujar dia, petugas IOM hanya bertemu dengan para pengungsi hanya sekali saja. Setelah itu tidak ada lagi, sehingga merekapun berdemonstrasi di kantor itu.
Lebih lanjut Kubra yang berdemonstrasi bersama dua anaknya dan suaminya itu mengatakan saat ini ada seorang pegungsi asal Afganistan yang tertekan dan kini tak mau makan dan minum akibat tertekan dengan status kewarganegaraan mereka.
"Ia hanya minum obat syaraf saja, makan dan minum tidak mau. Saat ini akibat ketidakjelasan dari IOM dalam setahun ada kurang lebih 4-5 imigran di Indonesia yang meninggal karena stress," ujar dia.
Sementara itu Ali Reza Qanbari mengatakan, sebenarnya setidaknya perwakilan dari para pengungsi itu untuk berbicara dengan pihak IOM Kupang, namun tak diijinkan masuk. "Kami besok akan datang lagi kalau tidak ada niat baik dari pihak IOM untuk mendatangi kami," ujar dia.
Sampai dengan berita ini diturunkan perwakilan IOM Kupang belum bisa ditemui di kantornya.
Baca juga: Pencari suaka di Kupang mencapai 285 orang
Baca juga: Puluhan imigran asal Afghanistan di Kupang terpapar COVID
Seorang imigran bernama Kubra Hasani ditemui ANTARA di Kupang, Rabu, (28/4) mengatakan, mereka hanya ingin bertemu dengan perwakilan IOM Kupang, untuk menanyakan kejelasan akan waktu kepindahan mereka kenegara rujukan.
"Kami datang sebenarnya baik-baik saja, tetapi mereka malah mengunci diri di dalam gedung dan tak mau keluar dari gedung untuk bertemu kami," katanya.
Kubra mengaku dia sudah berada di Kupang sejak 2013 lalu. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan kapan mereka akan dipindahkan ke negara rujukan dari IOM.
Pasalnya mereka mengkhawatirkan nasib anak-anak mereka yang hingga saat ini tidak bisa sekolah akibat terkendala status mereka masih sebagai pengungsi.
Selama dua tahun terakhir, ujar dia, petugas IOM hanya bertemu dengan para pengungsi hanya sekali saja. Setelah itu tidak ada lagi, sehingga merekapun berdemonstrasi di kantor itu.
Lebih lanjut Kubra yang berdemonstrasi bersama dua anaknya dan suaminya itu mengatakan saat ini ada seorang pegungsi asal Afganistan yang tertekan dan kini tak mau makan dan minum akibat tertekan dengan status kewarganegaraan mereka.
"Ia hanya minum obat syaraf saja, makan dan minum tidak mau. Saat ini akibat ketidakjelasan dari IOM dalam setahun ada kurang lebih 4-5 imigran di Indonesia yang meninggal karena stress," ujar dia.
Sementara itu Ali Reza Qanbari mengatakan, sebenarnya setidaknya perwakilan dari para pengungsi itu untuk berbicara dengan pihak IOM Kupang, namun tak diijinkan masuk. "Kami besok akan datang lagi kalau tidak ada niat baik dari pihak IOM untuk mendatangi kami," ujar dia.
Sampai dengan berita ini diturunkan perwakilan IOM Kupang belum bisa ditemui di kantornya.
Baca juga: Pencari suaka di Kupang mencapai 285 orang
Baca juga: Puluhan imigran asal Afghanistan di Kupang terpapar COVID
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kakanwil Kemenkumham NTT harapkan petugas Rudenim sering-sering ajak imigran bicara
12 July 2024 14:55 WIB, 2024
WNA Bangladesh dan Rohingya bayar Rp172 juta agar bisa lolos ke Australia
12 July 2024 6:45 WIB, 2024
Artikel - Kisah Ali nelayan NTT yang dituduh selundupkan 55 Imigran ke Australia
19 January 2024 14:53 WIB, 2024
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
Pertamina apresiasi bareskrim ungkap penyalahgunaan BBM-LPG Subsidi 2025-2026
08 April 2026 16:37 WIB