Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di NTT
Jumat, 2 Februari 2018 16:51 WIB
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo. (Foto ANTARA/Bernadus Tokan)
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG El Tari Kupang Ota Welly Jenni Thalo mengingatkan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) selama Februari 2018.
"Gelombang di perairan laut memang sudah mulai berangsur kondusif, tetapi diperkirakan untuk bulan Pebruari 2018, masih berpotensi terjadi cuaca ekstrem," kata Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Jumat, terkait perkembangan cuaca di NTT.
Selama dua hari terakhir ini, cuaca mulai membaik yang ditandai dengan hujan yang sudah mulai mereda, setelah lebih dari dua pekan wilayah itu dilanda hujan deras disertai angin kencang.
Akibatnya, terjadi bencana di sejumlah wilayah di NTT, dan kapal-kapal feri juga menghentikan pelayaran ke semua lintasan penyeberangan karena gelombang yang sangat tinggi mencapai 7 meter.
Dia menambahkan, informasi tinggi gelombang di wilayah perairan NTT mulai 4 Pebruari 2018 sudah mulai kondusif.
Tinggi gelombang di perairan NTT berkisar 0.75 meter - 1.5 meter kecuali yang masih perlu diwaspadai wilayah Perairan Selatan NTT karena tinggi gelombang masih berkisar dua meter, katanya.
Kondisi ini diakibatkan tekanan udara di selatan NTT berangsur-angsur naik, katanya dan menjelaskan berdasarkan hasil analisa BMKG, kondisi terkini yakni 1-7 Februari 2018, tekanan udara di selatan NTT pada siang-malam hari 1008 Hecto pascal (Hpa).
Artinya, tekanan udara di selatan Nusa Tenggara Timur mulai turun dan cuaca mulai membaik, tetapi dari hasil analisa, selama Februari masih ada potensi cuaca ekstrem.
Karena itu, diharapkan kepada seluruh masyarakat daerah itu agar selalu update informasi yang dikeluarkan BMKG, untuk mengurangi risiko terjadinya bencana.
"Gelombang di perairan laut memang sudah mulai berangsur kondusif, tetapi diperkirakan untuk bulan Pebruari 2018, masih berpotensi terjadi cuaca ekstrem," kata Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Jumat, terkait perkembangan cuaca di NTT.
Selama dua hari terakhir ini, cuaca mulai membaik yang ditandai dengan hujan yang sudah mulai mereda, setelah lebih dari dua pekan wilayah itu dilanda hujan deras disertai angin kencang.
Akibatnya, terjadi bencana di sejumlah wilayah di NTT, dan kapal-kapal feri juga menghentikan pelayaran ke semua lintasan penyeberangan karena gelombang yang sangat tinggi mencapai 7 meter.
Dia menambahkan, informasi tinggi gelombang di wilayah perairan NTT mulai 4 Pebruari 2018 sudah mulai kondusif.
Tinggi gelombang di perairan NTT berkisar 0.75 meter - 1.5 meter kecuali yang masih perlu diwaspadai wilayah Perairan Selatan NTT karena tinggi gelombang masih berkisar dua meter, katanya.
Kondisi ini diakibatkan tekanan udara di selatan NTT berangsur-angsur naik, katanya dan menjelaskan berdasarkan hasil analisa BMKG, kondisi terkini yakni 1-7 Februari 2018, tekanan udara di selatan NTT pada siang-malam hari 1008 Hecto pascal (Hpa).
Artinya, tekanan udara di selatan Nusa Tenggara Timur mulai turun dan cuaca mulai membaik, tetapi dari hasil analisa, selama Februari masih ada potensi cuaca ekstrem.
Karena itu, diharapkan kepada seluruh masyarakat daerah itu agar selalu update informasi yang dikeluarkan BMKG, untuk mengurangi risiko terjadinya bencana.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB