BPBD NTT imbau petani hemat penggunaan air hadapi kemarau
Kamis, 5 Mei 2022 13:30 WIB
Ilustrasi - Lahan pertanian yang kering saat musim kemarau di Kabupaten Kupang, Pulau Timor, NTT. (ANTARA/Aloysius Lewokeda)
Kupang (ANTARA) - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur Ambrosius Kodo mengimbau para petani di daerah itu agar menghemat penggunaan air untuk menghadapi ancaman kekeringan di musim kemarau.
"Para petani sudah harus mulai menghemat penggunaan air, salah satu cara dengan menanam tanaman holtikultura yang tidak boros air," katanya ketika dihubungi di Kupang, Kamis, (5/5).
Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan persiapan menghadapi musim kemarau di NTT dan langkah yang perlu dilakukan para petani.
Ambrosius mengatakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis bahwa NTT sedang dalam masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Untuk itu upaya mengantisipasi dampak kemarau berupa ancaman kekeringan perlu dipersiapkan dengan baik terutama bagi para petani agar tetap memproduksi tanaman pertanian.
"Petani di wilayah zona musim yang sudah memasuki kemarau agar memanfaatkan air sebaik mungkin agar kegiatan produksi tetap berjalan," katanya.
Lebih lanjut Ambrosius juga mengimbau agar petani mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan terutama di saat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar rumput atau dedaunan.
Selain itu bagi masyarakat agar tidak membuang puntung rokok secara sembarangan yang dapat memicu munculnya titik api yang tidak terkontrol dan menyebabkan kebakaran yang meluas.
Ambrosius mengajak semua elemen masyarakat agar melakukan upaya-upaya meminimalkan dampak musim kemarau sehingga tidak menimbulkan kerugian besar.
"Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dan menjaga lingkungan agar terhindar kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Baca juga: BMKG peringatkan gelombang tinggi mulai Kamis pagi
Baca juga: BMKG: Gelombang 4 meter berpotensi landa empat titik laut NTT
"Para petani sudah harus mulai menghemat penggunaan air, salah satu cara dengan menanam tanaman holtikultura yang tidak boros air," katanya ketika dihubungi di Kupang, Kamis, (5/5).
Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan persiapan menghadapi musim kemarau di NTT dan langkah yang perlu dilakukan para petani.
Ambrosius mengatakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis bahwa NTT sedang dalam masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Untuk itu upaya mengantisipasi dampak kemarau berupa ancaman kekeringan perlu dipersiapkan dengan baik terutama bagi para petani agar tetap memproduksi tanaman pertanian.
"Petani di wilayah zona musim yang sudah memasuki kemarau agar memanfaatkan air sebaik mungkin agar kegiatan produksi tetap berjalan," katanya.
Lebih lanjut Ambrosius juga mengimbau agar petani mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan terutama di saat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar rumput atau dedaunan.
Selain itu bagi masyarakat agar tidak membuang puntung rokok secara sembarangan yang dapat memicu munculnya titik api yang tidak terkontrol dan menyebabkan kebakaran yang meluas.
Ambrosius mengajak semua elemen masyarakat agar melakukan upaya-upaya meminimalkan dampak musim kemarau sehingga tidak menimbulkan kerugian besar.
"Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dan menjaga lingkungan agar terhindar kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Baca juga: BMKG peringatkan gelombang tinggi mulai Kamis pagi
Baca juga: BMKG: Gelombang 4 meter berpotensi landa empat titik laut NTT
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG: Suhu udara mencapai 37 derajat di sejumlah wilayah pada 22-29 September 2025
29 September 2025 14:45 WIB
BNPB: Pemerintah dan masyarakat mewaspadai anomali cuaca di tengah puncak musim kemarau
01 August 2025 15:16 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Festival Lamaholot lolos KEN 2026 dan diyakini dongkrak pariwisata Lembata
27 January 2026 20:45 WIB