BLK dorong masyarakat NTT berwirausaha
Selasa, 30 Oktober 2018 19:36 WIB
Staf ahli Wali Kota Kupang Alex Jawarus (tengah) ketika membuka kegiatan pelatihan dan pendidikan otomotif bagi pencari kerja di kota Kupang, Selasa (17/4). (ANTARA Foto/Benny Jahang)
Kupang (AntaraNews NTT) – Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur Benediktus Gaya mendorong masyarakat daerah ini untuk berwirausaha dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
“Sejauh ini yang menjadi kendala utama adalah tidak adanya motivasi serta dorongan kepada masyarakat untuk berwirausaha. Akibatnya, masyarakat juga diam dan tidak mau mengambil risiko,” katanya dalam percakapan dengan Antara di Kupang, Selasa (30/10).
Ia mengatakan sudah banyak masyarakat usia produktif yang mengikuti pelatihan keterampilan yang digelar oleh Balai Latihan Kerja (BLK), dan dalam banyak kesempatan jumlah yang mengikuti pelatihan terkadang melebihi kapasitas.
Bahkan bantuan dari APBD Nusa Tenggara Timur berupa peralatan penunjang telah diberikan kepada para lulusan sebagai perangsang untuk membuka usaha di bidang yang digelutinya, tapi hanya sedikit yang berani menjadi wirausaha.
Ia mengatakan alokasi bantuan dari APBD NTT berupa alat-alat penunjang usaha itu umumnya bersifat stimulan, seperti bantuan peralatan pendukung usaha otomotif bagi warga yang hendak membuka bengkel dan sejenisnya.
”Bantuan berupa perkakas bengkel, misalnya, tetap diberikan setelah mereka selesai mengikuti pelatihan, namun tak ada yang berani untuk membuka bengkel, karena alasan ketiadaan modal usaha,” katanya.
Baca juga: Pemda NTT sudah siapkan lahan untuk pembangunan BLK internasional
Oleh karena itu, ia juga berharap kepada pihak perbankan untuk memberikan bantuan modal dengan bunga kecil agar bisa merangsang para lulusan BLK menjadi wirausahawan.
Artinya, kata Benediktus, di sini ada lapangan kerja bagi mereka untuk berwirausaha, namun karena ketiadaan modal dan tidak mau mengambil risiko, maka produk BLK akhirnya menjadi sia-sia.
Kondisi inilah yang sangat disayangkan, karena mereka yang telah memiliki keterampilan, tidak bisa mengembangkan usaha karena ketiadaan modal kerja.
”Kami berharap pihak perbankan bisa membuka mata melihat kondisi ini, agar pelaksanaan moratorium tenaga kerja ke luar negeri seperti yang diinginkan Gubernur Viktor Laiskodat bisa segera terwujud,” ujarnya.
Ans, salah seorang lulusan BLK Kupang mengatakan setelah mengikuti pelatihan, semua peserta diberi motivasi untuk berani berwirausaha sesuai dengan bidang pelatihan yang diikuti.
“Namun, salah satu kendala yang kami hadapi, yaitu keterbatasan modal untuk memulai usaha. Niat untuk berwirausaha itu akhirnya sirna ditelan lamunan karena tidak ada modal,” katanya.
Baca juga: DPRD NTT dukung pembangunan BLK-LN
Ia juga berharap kepada pihak perbankan dapat memberikan pinjaman dengan bunga ringan tanpa agunan, untuk mendorong para lulusan BLK menjadi wirausahawan.
”Kami sadar bahwa pihak perbankan memiliki banyak persyaratan tentang pinjaman, namun kami berharap agar persyaratannya jangan terlalu memberatkan, kata Ans.
“Sejauh ini yang menjadi kendala utama adalah tidak adanya motivasi serta dorongan kepada masyarakat untuk berwirausaha. Akibatnya, masyarakat juga diam dan tidak mau mengambil risiko,” katanya dalam percakapan dengan Antara di Kupang, Selasa (30/10).
Ia mengatakan sudah banyak masyarakat usia produktif yang mengikuti pelatihan keterampilan yang digelar oleh Balai Latihan Kerja (BLK), dan dalam banyak kesempatan jumlah yang mengikuti pelatihan terkadang melebihi kapasitas.
Bahkan bantuan dari APBD Nusa Tenggara Timur berupa peralatan penunjang telah diberikan kepada para lulusan sebagai perangsang untuk membuka usaha di bidang yang digelutinya, tapi hanya sedikit yang berani menjadi wirausaha.
Ia mengatakan alokasi bantuan dari APBD NTT berupa alat-alat penunjang usaha itu umumnya bersifat stimulan, seperti bantuan peralatan pendukung usaha otomotif bagi warga yang hendak membuka bengkel dan sejenisnya.
”Bantuan berupa perkakas bengkel, misalnya, tetap diberikan setelah mereka selesai mengikuti pelatihan, namun tak ada yang berani untuk membuka bengkel, karena alasan ketiadaan modal usaha,” katanya.
Baca juga: Pemda NTT sudah siapkan lahan untuk pembangunan BLK internasional
Oleh karena itu, ia juga berharap kepada pihak perbankan untuk memberikan bantuan modal dengan bunga kecil agar bisa merangsang para lulusan BLK menjadi wirausahawan.
Artinya, kata Benediktus, di sini ada lapangan kerja bagi mereka untuk berwirausaha, namun karena ketiadaan modal dan tidak mau mengambil risiko, maka produk BLK akhirnya menjadi sia-sia.
Kondisi inilah yang sangat disayangkan, karena mereka yang telah memiliki keterampilan, tidak bisa mengembangkan usaha karena ketiadaan modal kerja.
”Kami berharap pihak perbankan bisa membuka mata melihat kondisi ini, agar pelaksanaan moratorium tenaga kerja ke luar negeri seperti yang diinginkan Gubernur Viktor Laiskodat bisa segera terwujud,” ujarnya.
Ans, salah seorang lulusan BLK Kupang mengatakan setelah mengikuti pelatihan, semua peserta diberi motivasi untuk berani berwirausaha sesuai dengan bidang pelatihan yang diikuti.
“Namun, salah satu kendala yang kami hadapi, yaitu keterbatasan modal untuk memulai usaha. Niat untuk berwirausaha itu akhirnya sirna ditelan lamunan karena tidak ada modal,” katanya.
Baca juga: DPRD NTT dukung pembangunan BLK-LN
Ia juga berharap kepada pihak perbankan dapat memberikan pinjaman dengan bunga ringan tanpa agunan, untuk mendorong para lulusan BLK menjadi wirausahawan.
”Kami sadar bahwa pihak perbankan memiliki banyak persyaratan tentang pinjaman, namun kami berharap agar persyaratannya jangan terlalu memberatkan, kata Ans.
Pewarta : Quidora Soera
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BLK NTT targetkan latih keterampilan bekerja bagi 200 orang pada 2023
07 February 2023 16:40 WIB, 2023
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB
KPAI menemukan pencairan dana PIP kasus anak akhiri hidup di NTT terkendala teknis bank
11 February 2026 13:50 WIB