Artikel - Menaruh asa kepada laut

id kawasan konservasi laut,konservasi,ekosistem pesisir,restorasi terumbu karang,budidaya rumput laut,sabun rumput laut,wis,artikel kelautan Oleh Sugiharto Purnama

Artikel - Menaruh asa kepada laut

Petani mengangkut rumput laut usai dipanen di perairan Pulau Lembongan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, Selasa (27/6/2023). (ANTARA/Sugiharto Purnama)

Ketika suhu air laut terus mengalami peningkatan akibat pemanasan global, terumbu karang akan rusak, yang membuat biota laut kehilangan tempat tinggal. Kondisi itu dapat memperparah dampak krisis pangan yang dialami oleh manusia...
Jakarta (ANTARA) - Surya bersinar terik tepat tengah hari memantulkan warna hijau zamrud dari dasar perairan dangkal yang menjadi lokasi budi daya rumput laut di Pulau Lembongan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.
 
Sepasang petani paruh baya terlihat mendorong perahu yang telah berisi dua keranjang besar rumput laut ke tepian.
 
Mereka adalah Meta (59) dan Armiti (58) yang berprofesi sebagai guru, namun memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani rumput laut, guna merawat nilai historis Pulau Lembongan sebagai kawasan penghasil rumput laut yang telah terkenal sejak empat dekade silam.
 
Komoditas rumput laut mulai ditanam sekitar tahun 1982 di Pulau Lembongan. Lalu, tumbuhan yang secara ilmiah dikenal dengan istilah algae atau ganggang itu kian berkembang pesat mulai tahun 1985.
 
Popularitas rumput laut di wilayah tersebut hanya bertahan tiga dekade, lantaran para petani perlahan meninggalkan budi daya rumput laut dan beralih ke sektor pariwisata, terhitung sejak tahun 2008 hingga 2019.
 
"Ketika virus Corona muncul yang membuat sektor pariwisata mati suri, orang-orang kembali bertani rumput laut dan berlanjut sampai sekarang," kata Armiti kepada ANTARA, saat ditemui sedang memanen rumput laut pada pengujung Juni 2023.
 
Awalnya rumput laut merah adalah produk andalan dari Pulau Lembongan, namun saat ini jenis itu tak bisa lagi tumbuh karena dinamika iklim. Kini rumput laut merah telah kalah bersaing dengan rumput laut hijau yang adaptif.
 
Para petani hanya perlu menunggu selama satu bulan untuk memanen rumput laut hijau, yang akrab disebut gerandong oleh penduduk lokal.
 
Meta dan Armiti memiliki 500 batang rumput laut hijau. Ratusan batang itu mampu menghasilkan sekitar tiga karung rumput laut kering setiap bulan.
 
Pengepul menghargai rumput laut kering itu senilai Rp15 ribu per kilogram, sedangkan nilai jual rumput laut basah hanya dihargai Rp5 ribu per kilogram.
 
Pada April 2023, harga rumput laut kering sempat menyentuh angka Rp40 ribu per kilogram. Itu adalah harga terbaik yang dinikmati para petani rumput laut.
 
Pasca-pandemi COVID-19 dan sektor pariwisata kembali berdenyut, ratusan warga masih membudidayakan rumput laut.
 
Kemasyhuran bisnis pariwisata pesisir kini tak lagi menggoyahkan mereka untuk beranjak dari aktivitas menghijaukan laut. Apalagi kian banyak industri rumahan yang membuat produk turunan rumput laut telah meningkatkan permintaan terhadap bahan baku rumput laut.
 
 
Sabun organik rumput laut