Sampel sarang walet diekspor ke Brunei dan Thailand

id sarang burung walet

Sampel sarang walet diekspor ke Brunei dan Thailand

Sarang burung walet yang sudah dipanen. (ANTARA FOTO/HO-Karantina Pertanian Ende)

Sebanyak 20 kilogram sampel sarang burung walet asal Lembata diekspor ke Brunei Darussalam dan Thailand oleh Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Ende wilayah kerja Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Kupang (ANTARA) - Sebanyak 20 kilogram sampel sarang burung walet asal Lembata diekspor ke Brunei Darussalam dan Thailand oleh Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Ende wilayah kerja Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Karantina Pertanian Ende, Yulius Umbu Hunggar kepada ANTARA di Kupang, Jumat (20/9), mengatakan bahwa potensi permintaan sarang burung walet sangat besar dan dicari banyak investor.

"Saat ini produk sarang burung walet di Ende dan kabupaten lain di Flores belum dapat diekspor secara langsung, hambatan telah kami petakan dan kami terus koordinasi untuk mencarikan solusinya," katanya.

Ia berharap sampel sarang burung walet itu bisa diterima oleh kedua negara itu sehingga dapat memacu para petani sarang burung walet untuk semakin rajin memproduksi.

Pihaknya mencatat sejak periode Januari-September 2019 sebanyak 0,095 ton sarang burung walet dengan nilai ekonomi Rp1 miliar telah disertifikasi untuk dilalulintaskan antarpulau kemudian diekspor ke sejumlah negara.

Baca juga: NTT segera ekspor kelor ke Jepang pada September 2019
Baca juga: Sentra produksi rumput laut diperkuat untuk ekspor berkelanjutan


Yulius menjelaskan, produk pertanian yang juga dikenal dengan sebutan "liur emas" ini telah dijamin kesehatan dan keamanannya sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Menurutnya, kualitas sarang burung walet dari Pulau Lembata ini sangat baik dan banyak digemari karena langsung diambil dari sarangnya yang berada di gua.

"Karena langsung dari alam, ciri khasnya ini yang dicari para konsumen pasar dunia," katanya dan menambahkan walaupun demikian sarang burung walet yang berasal dari rumah walet juga dapat diterima setelah ada peninjauan oleh pembeli dari Tiongkok.

"Ini peluang juga, kami dorong peningkatan produksi sarang burung walet artifisial ini agar mampu tembus pasar yang lebih luas," tutur Yulius.

Sementara itu petugas Karantina Pertanian Ende di Wliker Lembata, Phillpus Maru saat dihubungi ANTARA mengatakan bahwa produk sarang burung walet banyak digunakan sebagai bahan baku produk kesehatan dan kecantikan. "Oleh karena itu industri sarang burung ini mampu menarik investor untuk berinvestasi, " tambah dia.

Ia menjelaskan sarang burung walet yang memiliki nama latin "Collocalia vestita" ini biasanya dari Lembata dikirim ke Jakarta dan Surabaya dalam bentuk mentah. Selanjutnya diolah di rumah pemrosesan agar dapat memenuhi persyaratan ekspor.

Saat ini harga jual di tingkat petani sebesar Rp10 juta per kilogram dan lebih untuk kualitas yang lebih baik. Di Lembata, juga terdapat satu dusun dengan sebutan dusun walet, sarang burung walat dijadikan usaha sampingan oleh seluruh penduduk di desa ini.

"Kami berharap dengan potensi yang ada serta menarik bagi investor, ke depan ekspor sarang burung walet asal Lembata dapat langsung dikirim ke negara tujuan ekspor tanpa harus melalui Ende lagi," ujar Philipus.

Baca juga: Komoditi perikanan akan diekspor melalui Bandara El Tari Kupang
Baca juga: NTT ekspor langsung rumput laut ke Argentina