Hati-hati dengan ancaman kelaparan bagi NTT

id kelaparan di ntt

Hati-hati dengan ancaman kelaparan bagi NTT

Ketua Komisi V DPRD NTT Yunus Takandewa. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Fraksi PDIP NTT mengingatkan pemerintahan Gubernur Viktor Laiskodat terkait adanya ancaman kelaparan yang diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah dalam tahun ini.
Kupang (ANTARA) - Fraksi PDI Perjuangan DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingatkan pemerintahan Gubernur Viktor Laiskodat terkait adanya ancaman kelaparan yang diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah dalam tahun ini.

"Informasi curah hujan dari BMKG, pengamatan para pakar, dan juga kondisi yang terpantau langsung di lapangan, telah meyakinkan bahwa ancaman kelaparan sudah di depan mata dan ini tidak bisa biarkan," kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Yunus Takandewa, di Kupang, Minggu (26/1).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan keluhan para petani di sejumlah daerah di NTT yang mengatakan bahwa curah hujan tahun ini sangat kurang sehingga tidak bisa bercocok tanam.

Bahkan, ada petani yang sudah menanam pun tidak bisa tumbuh dengan baik karena minim curah hujan.

Baca juga: Kata pengamat pertanian, NTT akan dilanda kelaparan

"Sebagai Ketua Komisi V, kami bersama anggota juga melakukan pemantauan langsung di lapangan, dan fakta lapangan telah meyakinkan kami bahwa ancaman kelaparan itu sudah ada di depan mata," kata Yunus Takandewa.

Karena itu, dia juga meminta pemerintahan Gubernur Viktor Laiskodat untuk mengaktifkan posko layanan di semua tingkatan, karena cuaca ekstrem dan curah hujan tidak menentu.

"Pemerintah harus mulai menggerakkan posko bencana, untuk melakukan monitoring, pencatatan kejadian, kemungkinan dampak dan solusi penanganannya," katanya menambahkan.

Langkah ini penting dilakukan, agar pemerintah dapat menyiapkan skenario penanganan secara cepat dan tepat sejak awal.

"Artinya, tidak menunggu sampai ada rakyat yang merintih karena kelaparan, baru pemerintah bergerak mencari solusi penanganan," kata mantan Wakil Ketua DPRD NTT ini pula.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar