Pengoperasian kapal ternak tunggu tender

id Sapi

Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi

Dua kapal ternak yang ditambahkan di wilayah itu hingga kini belum dapat beroperasi karena masih menunggu proses tender.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur Dani Suhadi mengatakan dua kapal ternak yang ditambahkan di wilayah itu hingga kini belum dapat beroperasi karena masih menunggu proses tender.

"Kita memang mendapatkan tambahan dua unit kapal ternak dari pemerintah. Namun hingga kini belum dapat beroperasi," katanya kepada Antara di Kupang, Jumat.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan progres dari rencana pemberian dua unit kapal ternak, dalam rangka mendukung pengiriman ternak dari NTT menuju ke sejumlah daerah di luar NTT.

Dani menjelaskan belum beroperasinya dua unit kapal tersebut karena masih menunggu proses tender operasi di Kementerian Perhubungan.

"Saat ini dua kapal itu belum dapat beroperasi karena memang belum ada keputusan siapa pemenang tender untuk kedua kapal itu," ujarnya.

Selama ini satu kapal yang sudah beroperasi dikelolah oleh PT Pelni, namun seiring waktu berjalan proses tender kembali dibuka untuk dua kapal tersebut.

"Jadi kali ini antara Pelni atau pihak swasta yang akan mengelolahnya masih menunggu," ujarnya.

Pemerintah NTT menurut Dani mengapresiasi adanya dua unit kapal yang akan dimiliki oleh NTT tersebut untuk mendukung proses pengiriman sapi dari NTT yang kuotanya terus bertambah.

Selain berguna untuk menambah kuota pengiriman, dua kapal ternak itu juga dapat membantu menjaga kesejahteraan ternak selama proses pengiriman dari NTT menuju ke lokasi pengiriman.

"Biasanya kalau perjalanan jauh, kemudian sapi banyak, nanti akan berpengaruh pada sapi yang strees bahkan bisa mati. Oleh karena itu kami sangat berterima kasih untuk ini," ujarnya.

Selain itu juga justru akan sangat membantu para petenak NTT yang selama ini selalu mengirimkan sapi dengan kapal kargo karena tidak mendapatkan tempat di kapal ternak yang menjadi program tol laut Presiden Joko Widodo itu. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar