ASITA kritik pungli di Sumba Barat Daya

id Abed Frans

ASITA kritik pungli di Sumba Barat Daya

Ketua ASITA Nusa Tenggara Timur Abed Frans (ANTARA Foto/dok)

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur Abed Frans mengkritiki praktik pungutan liar (pungli) di berbagai objek wisata Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba.
Kupang (AntaraNews NTT) - Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur Abed Frans mengkritiki praktik pungutan liar (pungli) di berbagai objek wisata Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba.

"Rata-rata destinasi wisata di Sumba Barat Daya itu ada pungli. Ini yang membuat kami juga heran," kata Abed Frans kepada Antara di Kupang, Senin (16/7) dan menambahkan Asita sebagai operator perjalanan wisata mengalami kondisi itu ketika melayani wisatawan berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Sumba Barat Daya.

Ia mencontohkan pungli di beberapa destinasi wisata di Pantai Bwanna, Pantai Mandorak, Danau Weekuri, dan Tanjung Mahera. "Retribusi ke obyek wisata ini tidak jelas masuknya ke mana karena dipungut oleh anak-anak kecil dan tanpa bukti pembayaran sama sekali," katanya.

Ia menduga Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya belum betul-betul mengelola berbagai destinasi wisata tersebut dengan baik, karena banyak pungutan di berbagai destinasi wisata yang tidak terkontrol.

"Ini sangat disayangkan karena retribusi tempat-tempat wisata ini sebenarnya bisa membantu peningkatan pendapatan pemerintah daerah setempat," katanya.

Abed Frans berharap, pemerintah setempat dapat memberi perhatian khusus terhadap kondisi di destinasi wisata itu sehingga wisatawan juga merasa aman dan nyaman ketika berkunjung.

Baca juga: ASITA minta destinasi nominasi API benahi infrastruktur
Baca juga: ASITA bangga banyak destinasi wisata di NTT semakin populer