BMGK: NTT berada di puncak musim kering
Sabtu, 25 Agustus 2018 11:35 WIB
Nusa Tenggara Timur saat ini berada di puncak musim kering, sehingga masyarakatnya diimbau untuk berhemat air. (ANTARA Foto/dok)
Kupang (AntaraNews NTT) - Nusa Tenggara Timur saat ini berada di puncak musim kering, sehingga masyarakatnya perlu lebih hemat dalam memanfaatkan air, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun untuk kebutuhan pertanian dan ternak.
"Masyarakat NTT harus hemat dalam penggunaan air agar tidak dilanda krisis air bersih," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang Apolonaris Geru kepada Antara di Kupang, Sabtu (25/8).
Menurut dia, penghematan penggunaan air ini penting dilakukan karena saat ini NTT berada pada puncak musim kering dan berdampak pada masalah kekurangan air bersih.
Selain penghematan penggunaan air, pemerintah juga perlu mengambil langkah-langkah dengan menyediakan air bersih pada daerah-daerah yang rawan kekeringan.
"Kondisi ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun, sehingga saya yakin pemerintah sudah punya persiapan. Tinggal dibantu dengan kesadaran masyarakat," katanya. Sejumlah warga antre mendapatkan air bersih di sebuah kran saluran air di Waewole, Watunggene, Kota Komba, Manggarai Timur, NTT. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin) Dia menambahkan berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) bertutut-turut Dasarian II Agustus 2018 menunjukkan bahwa ada tujuh kabupaten mengalami kekeringan ekstrem.
Tujuh kabupaten itu adalah Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende, Lembata, Sumba Timur, Belu, Rote Ndao dan Kabupaten Kupang, yang pada umumnya mengalami kriteria HTH sangat pendek (1-5 hari) dan menengah (11-21 hari).
Namun, ada juga wilayah yang?mengalami HTH dengan kategori ekstrem yaitu lebih dari 60 hari, seperti Danga dan Rendu di Kabupaten Nagekeo, Sokoria di Kabupaten Ende, Wairiang di Kabupaten Lembata dan Rambangaru dan Lambanapu di Kabupaten Sumba Timur.
Selain itu, kata Apolonaris, ada daerah Olafulihaa di Kabupaten Rote Ndao, Fatulotu di Kabupaten Belu, serta Hueknutu dan Sulamu di Kabupaten Kupang.
Baca juga: Sebagian besar wilayah NTT memasuki kemarau
Baca juga: NTT diambang musim kemarau
"Masyarakat NTT harus hemat dalam penggunaan air agar tidak dilanda krisis air bersih," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang Apolonaris Geru kepada Antara di Kupang, Sabtu (25/8).
Menurut dia, penghematan penggunaan air ini penting dilakukan karena saat ini NTT berada pada puncak musim kering dan berdampak pada masalah kekurangan air bersih.
Selain penghematan penggunaan air, pemerintah juga perlu mengambil langkah-langkah dengan menyediakan air bersih pada daerah-daerah yang rawan kekeringan.
"Kondisi ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun, sehingga saya yakin pemerintah sudah punya persiapan. Tinggal dibantu dengan kesadaran masyarakat," katanya. Sejumlah warga antre mendapatkan air bersih di sebuah kran saluran air di Waewole, Watunggene, Kota Komba, Manggarai Timur, NTT. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin) Dia menambahkan berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) bertutut-turut Dasarian II Agustus 2018 menunjukkan bahwa ada tujuh kabupaten mengalami kekeringan ekstrem.
Tujuh kabupaten itu adalah Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende, Lembata, Sumba Timur, Belu, Rote Ndao dan Kabupaten Kupang, yang pada umumnya mengalami kriteria HTH sangat pendek (1-5 hari) dan menengah (11-21 hari).
Namun, ada juga wilayah yang?mengalami HTH dengan kategori ekstrem yaitu lebih dari 60 hari, seperti Danga dan Rendu di Kabupaten Nagekeo, Sokoria di Kabupaten Ende, Wairiang di Kabupaten Lembata dan Rambangaru dan Lambanapu di Kabupaten Sumba Timur.
Selain itu, kata Apolonaris, ada daerah Olafulihaa di Kabupaten Rote Ndao, Fatulotu di Kabupaten Belu, serta Hueknutu dan Sulamu di Kabupaten Kupang.
Baca juga: Sebagian besar wilayah NTT memasuki kemarau
Baca juga: NTT diambang musim kemarau
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG: Suhu udara mencapai 37 derajat di sejumlah wilayah pada 22-29 September 2025
29 September 2025 14:45 WIB
BNPB: Pemerintah dan masyarakat mewaspadai anomali cuaca di tengah puncak musim kemarau
01 August 2025 15:16 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Festival Lamaholot lolos KEN 2026 dan diyakini dongkrak pariwisata Lembata
27 January 2026 20:45 WIB