Ahok merintis bisnis pakan ternak di NTT

id Ahok

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau lebih populer dengan panggilan Ahok, saat tiba di Bandara El Tari Kupang, Selasa (13/8). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha).

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau yang akrab dipanggil Ahok berkunjung ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjajaki investasi pakan ternak di daerah ini.
Kupang (ANTARA) - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau yang akrab dipanggil Ahok berkunjung ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjajaki investasi pakan ternak di daerah ini.

Sekretaris DPD PDIP NTT Yunus Takandewa kepada ANTARA di Kupang, Selasa (13/8) mengatakan bahwa saat ini Ahok sudah tiba di Kota Kupang. "Selama berkunjung ke Kota Kupang ada beberapa agenda yang akan dilakukan oleh Ahok selain rencana investasi pakan ternak itu," katanya.

Sesuai dengan jadwal, pada pukul 14.00 WITA, Ahok akan bertemu dan berdialog dengan para tokoh agama, sebagai langkah memperkuat dan membumikan Pancasila sebagai ideologi paripurna yang menjadi falsafah bangsa, karena NTT, khususnya Kota Ende di Flores, menjadi sejarah lahirnya Pancasila yang juga menjunjung tinggi nilai tolerasi antarumat beragama.

"NTT kan tempat lahirnya Pancasila. Tentunya pak Ahok ingin agar NTT tetap menjadi provinsi yang tolerasi seperti yang tertuang dalam nilai-nilai Pancasila," kata Yunus Takandewa.

Acara puncak kunjungan Ahok ke Kupang yakni pada pukul 17.00 waktu setempat di mana sesuai jadwal, Ahok akan menyapa warga Kota Kupang dan berdialog secara dekat, santai dan merakyat di halaman kantor DPD PDI Perjuangan NTT di Jalan Frans Seda.

“Ahok akan berbagi konsep kemandirian ekonomi, usaha kecil menengah dan perhatian sosial melalui aplikasi tekhnologi kepada khalayak umum, serta menularkan norma-norma yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila," katanya.

Baca juga: Ahok: Saya Bukan Penista Agama
Baca juga: Jaksa Gunakan Pasal 156 Tuntut Ahok
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar