Akibat cuaca buruk produksi mete menurun

id produksi mete di Flores Timur

Akibat cuaca buruk produksi mete menurun

Sejumlah warga Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang memisahkan biji dari buah mete yang dipanen. (ANTARA FOTO/Dok Kamilus TJ)

Produksi jambu mete di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat angin kencang dan musim panas yang melanda wilayah tersebut.
Kupang (ANTARA) - Para petani di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengemukakan produksi tanaman mete yang dimiliki mengalami penurunan drastis dalam musim panen 2019 akibat kondisi cuaca buruk.

“Sampai sekarang saya baru panen mete hanya 70 kilogram, produksi menurun drastis dibandingkan tahun lalu bisa mencapai 500 kilogram,” kata Kamilus Tupen Jumat, seorang petani asal Pulau Adonara ketika dihubungi ANTARA dari Kupang, Sabtu (31/8).

Petani asal Desa Tuwagoetobi di Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur itu mengatakan, menurunnya produksi mete ini akibat cuaca buruk berupa angin kencang dan suhu udara yang panas melanda lahan pertanian di daerah setempat.

“Faktor hujan yang berhenti pada Maret 2019 di seluruh Pulau Adonara juga berdampak pada produksi mete kali ini,” kataKamilus.

Kamilus yang mengaku memiliki tanaman mete pada lahan sekitar setengah hektare itu mengatakan, penurunan produksi ini dialami semua petani mete di desa setempat maupun di kecamatan lainnya di kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Flores itu.

Baca juga: Petani Flores mulai panen jambu mete

Menurutnya, kondisi ini juga diperparah dengan harga mete yang menurun hingga Rp3.000 per kilogram. “Hari ini harga mete hanya Rp17.000 per kilogram, menurun kalau dibandingkan tahun lalu Rp20.000 per kilogram,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, para petani di daerah setempat tidak berharap banyak untuk meningkatkan pendapatan mereka dari hasil panen mete kali ini.

Samuel, salah seorang petani lainnya asal Desa Lamablawa, Pulau Adonara, mengemukakan hasil tanaman mete yang dikelola keluarganya kali ini jauh dari yang diharapkan.

“Buah mete juga jarang-jarang dan bunganya juga banyak yang rusak karena angin kencang dan suhu terlalu panas,” kata pemilik100 pohon mete itu.

Samuel menambahkan, kondisi harga mete saat ini juga sedang menurun dengan harga Rp17.000 per kilogram sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap penghasilan petani.

Baca juga: Rp800 juta untuk kembangkan agrowisata mete di SBD
 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar