
55 warga Lembata terserang DBD

"Sampai dengan Rabu (22/1) pagi ini, saya dapatkan informasi lagi bahwa jumlah penderita DBD di Lembata sudah mencapai 55 orang," kata Thomas Ola Langoday.
Kupang (ANTARA) - Sebanyak 55 warga Lembata di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terserang penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD) yang mulai melanda wilayah setempat sejak awal Januari 2020.
Hal tersebut dikemukakan Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, ketika dihubungi Antara dari Kupang, Rabu, (22/1) terkait penyakit DBD yang mulai menyerang warga di wilayah bagian timur Pulau Flores itu.
"Sampai dengan Rabu (22/1) pagi ini, saya dapatkan informasi lagi bahwa jumlah penderita DBD di Lembata sudah mencapai 55 orang," katanya.
Warga yang terserang DBD di daerah itu meningkat cukup cepat dalam hitungan hari karena pada Selasa (21/1) kemarin, jumlah penderita masih tercatat sebanyak 43 orang yang telah mendapat perawatan medis.
Untuk itu, dia telah menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi agar serangan penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus itu tidak terus meluas.
Baca juga: Kasus DBD di Lembata ditetapkan jadi KLB
Baca juga: Waspadai serangan DBD di Flores Timur
"Kami sudah buat kajian kedaruratan bencana dan pagi ini seperti di Kelurahan Selandoro, dari Lurah, Ketua RT, bersama berbagai elemen masyarakat mulai membersihkan lingkungan," kata mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandira Kupang itu.
"Kegiatan pembersihan lingkungan ini juga diimbau kepada seluruh kecamatan dan desa untuk menjaga kebersihan di lingkungan mereka masing-masing," katanya.
Kegiatan bersih lingkungan merupakan salah satu langka penting yang dilakukan pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat untuk mencegah penularan penyakit tidak meluas.
Wabup Thomas Ola menjelaskan, kegiatan ini memang sudah dilakukan sebelum musim hujan pada akhir 2019 melalui kegiatan Jumat Bersih, namun banyak saluran air yang tidak berfungsi secara baik menimbulkan banyak genangan air.
Selain itu, upaya pencegahan juga dilakukan dengan pengasapan (fogging), namun secara terbatas karena hanya bisa membunuh induk nyamuk sementara jentik-jentik berkembang biak sangat cepat.
"Karena itu kami utamakan pada upaya pembersihan lingkungan tidak hanya saat Jumat Bersih, namun hari-hari lain juga karena serangan penyakit DBD masih bertambah," katanya.*
Baca juga: Warga Kota Kupang diminta waspada terhadap DBD dan diare
Baca juga: DBD mulai mengincar Kota Kupang, dua warga meninggal
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
