KPU NTT minta paslon hindari kampanye hitam

id kampanye pilkada 2020 di ntt,ntt

KPU NTT minta paslon hindari kampanye hitam

Ketua KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur, Thomas Dohu. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Kepada paslon agar mengedepankan kampanye visi, misi program strategi untuk membangun wilayah, ketimbang mengkritik antara satu dan yang lain. Hindari hoaks dan kampanye hitam,
Kupang (ANTARA) - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Thomas Dohu meminta seluruh pasangan calon peserta Pilkada Serentak 2020, untuk mengedepankan kampanye visi, misi program strategis untuk membangun wilayah dan menghindari hoaks dan kampanye hitam.

"Kepada paslon agar mengedepankan kampanye visi, misi program strategi untuk membangun wilayah, ketimbang mengkritik antara satu dan yang lain. Hindari hoaks dan kampanye hitam," kata Thomas Dohu kepada ANTARA di Kupang, Jumat (25/9).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan kampanye Pilkada Serentak 2020 yang akan dimulai pada 26 September hingga 5 Desember 2020 atau berlangsung selama 71 hari.

Menurut dia, dengan mengedepankan kampanye visi dan misi program strategis, akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan yang terbaik bagi daerahnya.

Baca juga: Dua paslon Bupati-Wakil Bupati Belu lakukan ikrar kampanye damai
Baca juga: KPU deklarasi kampanye damai Pilkada Serentak di NTT


Selain itu, dia juga mengimbau pasangan calon untuk mengutamakan kampanye secara daring, untuk menghindari kerumunan massa yang bisa berdampak pada penyebaran COVID-19.

Dalam Pilkada Serentak 2020 di NTT akan diikuti 27 pasangan calon, tersebar di sembilan kabupaten, terdiri dari lima paslon untuk Pilkada Kabupaten Ngada.

Kabupaten Manggarai Barat dan Sumba Barat masing-masing empat pasangan calon.

Kabupaten Sabu Raijua dan Timor Tengah Utara (TTU) masing-masing tiga pasangan calon.

Sementara Kabupaten Belu, Malaka, dan Kabupaten Manggarai masing-masing bertarung dua pasangan calon.
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar