Wini Kawasan Ekonomi Baru

id Wini

Wini Kawasan Ekonomi Baru

Pantai Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur akan terus dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus bagi wilayah kantung (enclave) Timor Leste, Oecusse. (Foto ANTARA/Kornelis Kaha)

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara akan terus mengembangkan kawasan Wini yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Timor Leste menjadi kawasan ekonomi khusus di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kefamenanu (Antara NTT) - Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara akan terus mengembangkan kawasan Wini yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Timor Leste menjadi kawasan ekonomi khusus di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Saat ini tengah ada berbagai pembangunan di daerah ini. Dan Wini sendiri tengah ditargetkan untuk menjadi kawasan ekonomi khusus di antara sejumlah kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste," kata Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Fernandes di Kefamenanu, Senin.

Ia mengatakan untuk mendorong agar daerah perbatasan itu menjadi kawasan ekonomi khusus maka dirinya telah membicarakan hal tersebut dengan Pemerintah Kabupaten Belu yang juga berbatasan dengan Timor Leste.

Hal yang dibicarakan adalah rencana pembangunan bandar udara yang baru yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

"Saya sudah membicarakan hal tersebut dengan Bupati Belu Willy Lay soal pembangunan pelabuhan udara, sebab Bandara AA Bere Tallo di Haliwen, Kelurahan Manumutin, Kabupaten Belu tampaknya tidak bisa dikembangkan lagi," ujarnya.

Bupati dua periode ini mengatakan bahwa selama ini jika ada pesawat yang hendak landing di bandara tersebut terpaksa harus melewati garis batas kedua negara sehingga hal seperti itu harus dirubah dengan pembangunan yang baru.

"Kawasan untuk pembangunan bandara itu di daerah Motadik yang panjangnya mencapai belasan kilometer," tuturnya.

Disamping pembangunan bandara, pihaknya juga tengah akan membangun pelabuhan laut besar dalam rangka mewujudkan kawasan ekonomi khusus baru di daerah itu.

Oleh karena itu dalam beberapa tahun ke depan, pembangunan sejumlah gudang-gudang penampung barang akan segera dilakukan.

Ia sendiri meyakini bahwa Wini dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi daerah yang ramai oleh pengunjung baik itu untuk berwisata atau untuk berbisnis di daerah itu.

Bangun perhotelan
Bupati Raymundus menyadari bahwa fasilitas perhotelan untuk mendukung pengembangan pariwisata di daerahnya masih sangat minim, sehingga ia mengajak investor untuk mau berinvestasi membangun sejumlah perhotelan di sana.

"Untuk hotel di Kota Kefamenanu hanya beberapa, namun untuk fasilitas penginapan di kawasan wisata seperti di Wini, sama sekali belum ada. Karena itu, saya mengajak investor untuk membangun hotel di daerah ini," katanya.

Menurut dia, pembangunan fasilitas perhotelan menjadi sangat penting karena pariwisata di wilayah yang berbatasan dengan Oecusse, wilayah kantung (enclave) Timor Leste, terus menggeliat, baik itu wisata pantai, religu serta Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Wini.

"Sebagai kepala daerah, saya tentu akan terus mengajak para investor untuk membangun fasilitas perhotelan dan home stay di Kefamenanu, namun langkah awal yang perlu kami lakukan adalah membangun perkampungan wisata," ujarnya.

"Jadi saat ihi kita tengah kembangkan juga perkampungan wisata. Artinya rumah-rumah penduduk bisa kita jadikan untuk tempat menginap bagi wisatawan yang ingin berkunjung atau berwisata ke kawasan wisata," tuturnya.

Bupati dua periode ini juga mengatakan bahwa perkampungan wisata tentu akan memberikan pemasukan baru bagi masyarakat di kawasan wisata.

Ia mengaku salah satu investor dari Lippo Group sudah pernah berkunjung ke Kefamenanu untuk menanamkan investasinya di Wini, namun hingga saat ini proses tindak lanjutnya masih abu-abu atau belum jelas.

Ketika ditanya soal rencana pembangunan Patung Kristus Raja setinggi 58 meter di Bukit Noenbat di wilayah Kecamatan Kota Kefamenanu, Bupati Raymundus mengatakan sedang dalam proses.

"Kita sudah mulai tahun ini. Akses jalan menuju ke lokasi juga sudah dikerjakan dan dananya mencapai Rp100 miliar dan akan dihibahkan kepada lembaga atau organisasi yang berbadan hukum untuk kemudian membangunnya," tuturnya.

Lokasi patung Kristus Raja itu sendiri nantinya akan menjadi kawasan wisata religius, karena ada taman doa bagi keluarga-keluarga yang ingin berekreasi dan berdoa. Patung Kristus Raja diperkirakan akan jauh lebih tinggi di dunia setelah Rio de Jeneiro di Brazilia.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar