BI targetkan 80 ribu pedagang gunakan QRIS pada 2021

id QRIS, Labuan BAjo, NTT,BI NTT,Kota Kupang

BI targetkan 80 ribu pedagang  gunakan QRIS pada 2021

Kepala BI NTT I Nyoman A Atmaja (kanan) saat memberikan sambutan secara virtual soal Edukasi QRIS. Antara/Kornelis Kaha

Tahun ini kami targetkan akan ada 80 pedagang atau pelaku UMKM yang menggunakan QRIS sebagai alternatif pembayaran secara non tunai dalam transaksi jual beli
Kupang (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur menargetkan 80 ribu pedagang atau pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di provinsi itu terdaftar sebagai pengguna barcode Quick Response Indonesia Standard (QRIS) pada 2021.

"Tahun ini kami targetkan akan ada 80 pedagang atau pelaku UMKM yang menggunakan QRIS sebagai alternatif pembayaran secara non tunai dalam transaksi jual beli," kata Kepala Bank Indonesia Wilayah NTT I Nyoman Ariawan Atmaja di Kupang, Kamis, (25/2).

Hal ini disampaikannya ketika memberikan kata sambutan dalam seminar edukasi QRIS bagi dengan pedagang-pedagang di Labuan Bajo Manggarai Barat secara daring dalam rangka mendukung program "Menuju 12 Juta QRIS di Indonesia".

Ia mengatakan bahwa saat ini progres penggunaan QRIS di NTT masih terbilang sangat sedikit, sehingga BI sendiri akan terus mengelar sosialisasi manfaat penggunaan QRIS tersebut di berbagai daerah walaupun dilakukan secara daring.

'Jika dibandingkan dengan daerah lain, tentu saja jumlah pengguna QRIS di NTT masih kurang sekali dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu kami berharap 80 ribu pengguna itu bisa terwujud pada tahun ini," tambah dia.

BI wilayah NTT sendiri mencatat sampai dengan 19 Februari 2021 ini jumlah pedagang atau pelaku UMKM yang telah menggunakan QRIS sudah mencapai 32.443 pedagang.

"Jika dibandingkan dengan NTB dan Bali tentunya kita kalah jauh. NTB jumlah pedagang yang gunakan QRIS sudah mencapai 69 ribu. Sementara di Bali justru lebih tinggi yakni 150 ribu pedagang. Bisa dibilang NTT terendah untuk penggunaan QRIS bagi pedagang atau pelaku UMKM," ujar dia.

Ia menjelaskan bahwa QRIS bukan suatu aplikasi, namun merupakan standar pembayaran berbasis QR Code yang akan menjadi rujukan berbagai penyelenggara pembayaran menggunakan smartphone.

Dengan QRIS, pelaku usaha di Pasar Tradisional, pedagang ritel, UMKM maupun transaksi Donasi dapat menggunakan model pembayaran secara non tunai dengan hanya 1 macam QR Code.

"Dengan satu QR Code, bisa menerima pembayaran dari aplikasi penyelenggara manapun, baik dari bank atau non-bank, bahkan dapat menerima pembayaran dari turis manca negara," ujar dia.

Baca juga: BI tegaskan Bitcoin bukan alat pembayaran sah di RI

Baca juga: Transaksi QRIS di NTT selama tahu 2020 capai Rp2,2 M


Salah satu keunggulan transaksi menggunakan QRIS adalah dapat menghubungkan dengan mudah transaksi antar aplikasi, baik bank ataupun non-bank, termasuk bank-bank di daerah.

"Dengan QRIS, kita dapat mendorong kemajuan sektor perdagangan khususnya di pasar tradisional serta UMKM dan tentunya akan mempercepat akses keuangan bagi pelaku usaha sehingga memperluas inklusi ekonomi dan keuangan," tambah dia.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar