PDIP bangga Emilia dapat nomor urut dua

id emilia

Calon Wakil gubernur NTT Emilia Nomleni mengangkat nomor urutnya sambil meneteskan air mata usai rapat pleno terbuka penarikan nomor urut yang digelar oleh KPU di Kupang, NTT (13/2). (Antara Foto/Kornelis Kaha)

"Nomor dua itu dilambangkan dengan perdamaian dan juga kemenangan. Nomor urut yang sama didapatkan Jokowi pada Pilpres 2014," kata Andreas.

Kupang (AntaraNews NTT) - Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas H Pareira mengatakan pihaknya bangga Emilia mendapat nomor dua dalam kontestasi politik di Nusa Tenggara Timur.


"Nomor dua itu dilambangkan dengan perdamaian dan juga kemenangan. Nomor urut yang sama didapatkan Jokowi pada Pilpres 2014," kata Andreas mengingatkan pada "Salam 2 Jari" Jokowi-JK, dalam keterangan pers yang diterima Antara Kupang, Selasa, (13/2).


Andreas mengatakan Emilia adalah sosok perempuan tangguh dan merupakan satu-satunya calon kepala daerah perempuan yang diusung PDI Perjuangan. "Ibu Megawati menunjuk Ibu Emilia untuk berlaga dalam politik yang sangat maskulin, karena beliau adalah perempuan yang luar biasa," ujarnya.


PDI Perjuangan optimistis persoalan-persoalan yang menjangkiti NTT selama ini, seperti kemiskinan dan pedagangan manusia, bisa efektif diselesaikan oleh pemimpin perempuan.


Ia menjelaskan perbaikan NTT butuh kasih dan ketulusan hati seorang ibu. Sama seperti seorang ibu yang terus berjuang membesarkan anak-anaknya tanpa mengenal pamrih.


Meski berlaga tanpa pasangan, Andreas mengatakan bahwa pihaknya tetap optimistis Emilia akan berjuang semaksimal mungkin, bergotong royong bersama mesin partai, relawan, dan para simpatisan.


"Perjuangan politik kami tidak pernah mengenal kata menyerah. Sejarah telah membuktikan bahwa dalam kondisi sesulit apapun, di bawah tekanan dan intervensi kekuasaan Orde Baru, kami tetap bisa bertahan," ujarnya.


Andreas mengatakan bahwa Emilia akan berjuang sampai akhir dengan iman dan tekad demi pembangunan NTT yang makin maju. 
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar