Logo Header Antaranews Kupang

Desa wisata didorong bangun penginapan

Senin, 26 Maret 2018 12:39 WIB
Image Print
Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu
Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur mendorong ratusan desa-desa wisata yang tersebar di provinsi kepulauan itu untuk membangun penginapan bagi wisatawan.

Kupang (AntaraNews NTT) - Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur mendorong ratusan desa-desa wisata yang tersebar di provinsi kepulauan itu untuk membangun penginapan bagi wisatawan.

"Kalau semua desa wisata di NTT memiliki penginapan, yang ditata dengan baik dan nyaman, maka wisatawan bisa berlama-lama ketika berkunjung di sini. Untuk itu, saya mendorong agar semua memilikinya," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu di Kupang, Senin (26/3).

Ia mengatakan wilayahnya memiliki lebih dari 150 desa wisata yang menyebar di 22 kabupaten dan kota di Pulau Timor, Flores, Sumba, Alor, Sabu Raijua, dan Rote Ndao.

Ratusan desa wisata itu, lanjutnya, sudah didukung dengan daya tarik yang unik berupa pemandangan alam dan keaslian produk budayanya.

Ia mencontohkan, seperti Lede Unu dengan obyek wisata perkampungan adat dan Desa Kujiratu dengan obyek wisata situs Kujiratu di Kabupaten Sabu Raijua.

Selain itu desa wisata perkampungan tradisional Bena di Kabupaten Ngada Pulau Flores dan perkampungan tradisional Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pulau Timor.

"Kita kaya akan desa-desa wisata dan itu menyebar di setiap kabupaten/kota, hanya saja perlu diperkuat lagi infrastruktur seperti penginapan dan saran-prasarana lainnya," katanya.

Baca juga: Jalan desa wisata harus dibenahi
Baca juga: Wisata pantai Liman butuh dana Rp2 miliar

Salah satu model penginapan (home stay) untuk wisatawan (Foto Istimewa)

Menurut Marius, masing-masing desa wisata perlu memiliki penginapan yang dirancang secara sederhana namun menarik dan layak ditempati dengan tetap mempertahankan keaslian dan nilai-nilai budayanya.

Dengan begitu, wisatawan akan lebih lama tinggal di desa-desa wisata dan belanja wisatanya akan menguntungkan masyarakat setempat.

"Tidak perlu penginapan berkelas, tetap bangunan rumah tradisional yang ada tapi ditatah secara rapi, kebersihannya dijaga, sediakan toilet, dan tempat tidur yang nyaman," katanya.

Marius menambahkan, dinasnya masih memiliki anggaran yang terbatas untuk mendukung pengembangan desa-desa wisata sehingga ia mendorong pemerintah di setiap desa wisata agar memanfaatkan anggaran dana desanya.

"Tahun ini kami hanya kelola dana sekitar Rp15 miliar untuk semua kegiatan, sehingga masih sangat kecil kalau kita mau mengembangkan ratusan desa wisata di NTT," katanya.

Pemerintah provinsi, lanjutnya, dalam APBD tahun 2014 lalu mengalokasikan dana hibah sebesar Rp 2,5 miliar untuk mendukung program desa wisata di provinsi berbasiskan kepulauan ini

Baca juga: Kembangkan Pulau Semau jadi obyek wisata

Salah satu bentuk rumah adat di NTT (ANTARA Foto/ist)

Dana tersebut disalurkan untuk 50 desa wisata, masing-masing desa akan mendapat alokasi dana sebesar Rp50 juta.

Ia menambahkan, namun jumlah desa wisata terus bertambah sehingga ia mendorong pemerintah desa memanfaatkan alokasi anggaran dana desa dari kabupaten maupun pusat yang nilainya mencapai miliaran rupiah untuk setiap desa.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026