
Menko Kemaritiman berperan tangani kendala ekspor

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan diharapkan dapat membantu menangani kendala ekspor perikanan langsung dari provinsi setempat.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nusa Tenggara Timur Ganef Wurgiyanto berharap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dapat membantu menangani kendala ekspor perikanan langsung dari provinsi setempat.
"Kendala ekspor perikanan secara langsung dari NTT karena akses jalan dari Pelabuhan Perikanan Tenau Kupang menuju Pelabuhan Peti Kemas Tenau tidak diizinkan Pelindo III selaku pengelola," kata Ganef Wurgiyanto di Kupang, Kamis (5/4).
Menurut mantan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP NTT itu, masih ada ego sektoral yang menghambat upaya mendorong ekspor hasil perikanan dari provinsi setempat.
Ia menjelaskan, Pelindo III selaku pengelola Pelabuhan Peti Kemas Tenau hingga saat ini belum bisa mengizinkan pembukaan akses jalan dari Pelabuhan Perikanan Tenau yang letaknya bersebelahan atau hanya dibatasi pagar.
"Kami sudah komunikasikan dengan Pelindo, tapi tidak diizinkan karena alasan keamanan pelabuhan sehingga pintu masuk dan keluar pelabuhan hanya satu," katanya.
Ganef memaklumi standar pengelolaan pelabuhan tersebut, namun menurutnya, akses jalan langsung yang dimaksud tidak digunakan setiap saat, melainkan khusus untuk lalu lintas truk-truk kontainer ketika mengangkut hasil-hasil perikanan yang diekspor.
Baca juga: NTT dukung ekspor perikanan dari kawasan timur
"Karena letaknya hanya dibatasi pagar saja, namun sampai saat ini belum diizinkan Pelindo, katanya harus koordinasi ke Surabaya dan sebagainya," katanya.
Menurutnya, kendala akses jalan ini menjadi salah satu penghambat utama kegiatan ekspor perikanan secara langsung dari daerah setempat karena truk-truk kontainer dari pelabuhan perikanan harus berputar arah dan melewati jalan tanjakan yang sulit, sehingga kapasitas muatan hanya terbatas untuk kontainer 20 fit.
"Sementara aturan ekspor harus menggunakan kontainer berkapasitas 40 fit, sehingga kontainer 20 fit dari NTT harus dipindahkan lagi ketika sampai di Surabaya," katanya.
Menurutnya, meskipun pasokan ikan-ikan ekspor dari NTT, namun yang dikenal sebagai daerah pengekspor itu dari Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur karena hasil perikanan yang dimuat kontainer 20 fit harus dikeluarkan kembali untuk diisi dalam kontainer 40 fit.
"Inilah kendala yang kami alami di daerah terkait upaya ekspor langsung, kalau dengan kontainer 20 fit maka jelas jumlah yang diangkut juga terbatas sehingga upaya menggenjot nilai ekspor secara nasional tidak maksimal," katanya.
Menurut Ganef, kendala seperti ini hanya bisa diselesaikan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sehingga ia berharap bisa ditangani kementerian terkait.
"Masalah seperti ini hanya bisa diatasi Pak Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menko Maritim sehingga kami berharap beliau bisa turun tangan mengatasinya agar NTT bisa ekspor hasil perikanannya secara langsung," katanya.
Baca juga: Cakalang ekspor perikanan andalan NTT
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
