
SMAK Ignatius Loyola asah kemampuan siswa berbahasa asing lewat lomba

...Tujuan utama perlombaan ini lebih pada bagaimana mengasah kemampuan siswa untuk berpikir dan berbicara dengan baik, entah gunakan bahasa Indonesia atau Inggris; penekanan kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa asing
Labuan Bajo (ANTARA) - Sekolah Menengah Atas Katolik Santo Ignatius Loyola di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur mengasah kemampuan siswa berbicara bahasa asing lewat berbagai perlombaan.
"Tujuan utama perlombaan ini lebih pada bagaimana mengasah kemampuan siswa untuk berpikir dan berbicara dengan baik, entah gunakan bahasa Indonesia atau Inggris; penekanan kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa asing," kata Kepala SMAK St. Ignatius Loyola Labuhan Bajo Pater Gusty Naba SVD di Labuan Bajo, Senin, (31/10/2022).
Dalam konteks Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas, siswa-siswi SMAK St Ignatius Loyola tidak boleh hanya menjadi penonton di wilayah sendiri. Mereka pun harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.
Oleh karena itu, kata Pater Gusty, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, SMAK St Ignatius Loyola Labuan Bajo menggelar beberapa perlombaan seperti lomba debat, pidato, bercerita, dan membaca berita.
Lewat perlombaan itu, dia berharap para siswa memiliki kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa asing, sekaligus mempromosikan Labuan Bajo ke dunia internasional.
"Ada enam juri, yakni empat pastor SVD dan dua juri itu tamu asing. Biar mereka bisa menilai kemampuan anak-anak dan memberikan masukan perbaikan," ucapnya mengenai keterlibatan juri tamu dari pihak luar.
Pater Gusty mengatakan sekolah berkomitmen untuk mendukung para siswa menguasai bahasa asing, diantaranya dengan Loyola English Club dan penggunaan bahasa asing setiap hari Selasa dan Jumat.
Dengan demikian, para siswa pun bisa memiliki minat yang besar terhadap bahasa asing.
"Dalam dunia yang serba kompleks, multi bahasa, kancah internasional, minimal bisa kuasai bahasa Inggris," ungkap Pater Gusty.
Para peserta tampak antusias mengikuti perlombaan.
Nesa Titin (16), seorang pelajar kelas XI Bahasa tertantang mengikuti perlombaan untuk mengasah kemampuannya berbicara bahasa asing.
Karena keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan Hubungan Internasional, maka Nesa mati-matian belajar bahasa Inggris.
"Kalah menang itu bukan tujuan. Intinya bisa tampil dan mencoba berbicara bahasa Inggris," ungkapnya bersemangat.
Hal yang sama disampaikan oleh Sanda Hardin (16), teman angkatan Nesa.
Menurutnya kemampuan bahasa Inggris harus dimiliki pelajar karena tinggal di Labuan Bajo yang merupakan daerah pariwisata premium.
Baca juga: Sandiaga Uno ingin banyak investor tanam modal di Parapuar Labuan Bajo
"Kita tinggal di kota super premium, jadi kita harus bisa bahasa Inggris," ucapnya.
Jofa Wangge (14) membenarkan pernyataan dua kakak kelasnya. Menurut dia, kemampuan bahasa Inggris diperlukan sebagai modal berbicara dengan turis asing yang datang.
Baca juga: 1.200 peserta ikuti IFG Labuan Bajo Marathon
"Kalau turis bertanya ke kita, pasti harus kita jawab menggunakan bahasa Inggris," katanya menandaskan.
Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor:
Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
