Kupang (AntaraNews NTT) - Rencana pembangunan jembatan Palmerah Pancasila dan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tinggal menunggu persetujuan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Kami berharap bisa segera groundbreaking, tetapi masih belum selesai administrasi dengan pihak PLN, dan juga masih mengurus agreement dengan Bappenas," kata juru bicara konsorsium Belanda Latif Gau melalui surat elektroniknya dari Belanda kepada Antara di Kupang, Selasa (14/8).
     
Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan banyaknya pertanyaan dari masyarakat NTT, mengenai rencana pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Adonara di Flores Timur dan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut yang memanfaatkan potensi arus laut di Selat Gonzalu. 
     
Latif menegaskan, Belanda sangat serius membangun Jembatan Pancasila Palmerah (Pantai Paloh-Tanah Merah) yang dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL).
     
"Hanya saja, proyek investasi dengan nilai triliunan rupiah itu belum bisa terealisasi karena terhambat birokrasi Pemerintah Indonesia," katanya menegaskan.
     
Menurut dia, PT Tidal Brigde sangat siap, bahkan dana dari Pemerintah Belanda juga sudah siap untuk membiayai pengerjaan proyek tersebut. "Teknology dan expert untuk proyek tersebut juga sudah stand-by, tapi pemerintah Indonesia yang punya birokrasi," katanya.
     
Dia menambahkan, jikalau semua proses ini berjalan lancar, maka pada September 2018 ini, pihaknya bisa melakukan ground breaking atau peletakkan batu pertama setelah sekian lama tertunda. 

Baca juga: Jembatan Palmerah tetap dibangun
Baca juga: Pembangunan jembatan Palmerah murni investasi

Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2024