Jembatan Palmerah-PLTAL tetap dibangun
Rabu, 29 Agustus 2018 10:59 WIB
Pemerintah Belanda akan membangun jembatan Palmerah (Pantai Paloh Tanah Merah) yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara yang terbentang di atas Selat Gonzalu..
Kupang(AntaraNews NTT) - Juru Bicara Konsorsium Belanda Latif Gau menegaskan proyek Jembatan Pancasila Palmerah yang dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dibangun.
"Belanda sangat serius, hanya saja belum bisa terealisasi karena sedang proses di birokrasi pemerintah Indonesia," kata Latif Gau kepada Antara melalui surat email dari Belanda, Rabu (29/8).
Ia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur dan pembangkit listrik tenaga arus laut Selat Gonzalu.
Rencananya, kata Latif, peletakan batu pertama pembangunan proyek bernilai triliunan rupiah ini dilakukan pada September 2018 ini.
Menurut dia, PT Tidal Brigde sangat siap untuk memulai pelaksanaan proyek tersebut, bahkan dana dari Pemerintah Belanda juga sudah siap untuk membiayai pengerjaan proyek tersebut.
"Teknologi dan para ahli untuk proyek tersebut juga sudah siap, tapi pemerintah Indonesia yang punya birokrasi," katanya.
Ia menambahkan, jikalau semua proses ini berjalan lancar, maka pada September 2018 ini, pihaknya sudah bisa melakukan peletakan batu pertama, setelah sekian kali ditunda.
Baca juga: Pembangunan jembatan Palmerah-PLTAL terhambat di Bappenas
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Timur, Andre W Koreh secara terpisah mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara itu tetap dilaksanakan, meski masih mengalami kendala teknis.
"Pembangunan jembatan Pancasila Palmerah tetap dilaksanakan. Jadi tidak berhenti hanya pada rencana peletakan batu pertamanya," katanya.
Menurut dia, pembahasan tentang kelanjutan pembangunan jembatan Palmerah baru dilakukan pada (24/7) 2018 lalu di Jakarta dengan Kementerian ESDM.
Rapat tersebut membahas studi konektivitas dengan pihak Perusahan Listrik Negara (PLN) yang dipaparkan oleh pihak Konsorsium dari Belanda PT Tidal Brigde.
Latif Gau berharap agar pembangunan jembatan layang itu segera mulai, namun urusan administrasi dengan pihak PLN belum juga tuntas, serta masih menunggu persetujuan dari Bappenas.
Baca juga: Jembatan Palmerah tetap dibangun
"Belanda sangat serius, hanya saja belum bisa terealisasi karena sedang proses di birokrasi pemerintah Indonesia," kata Latif Gau kepada Antara melalui surat email dari Belanda, Rabu (29/8).
Ia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur dan pembangkit listrik tenaga arus laut Selat Gonzalu.
Rencananya, kata Latif, peletakan batu pertama pembangunan proyek bernilai triliunan rupiah ini dilakukan pada September 2018 ini.
Menurut dia, PT Tidal Brigde sangat siap untuk memulai pelaksanaan proyek tersebut, bahkan dana dari Pemerintah Belanda juga sudah siap untuk membiayai pengerjaan proyek tersebut.
"Teknologi dan para ahli untuk proyek tersebut juga sudah siap, tapi pemerintah Indonesia yang punya birokrasi," katanya.
Ia menambahkan, jikalau semua proses ini berjalan lancar, maka pada September 2018 ini, pihaknya sudah bisa melakukan peletakan batu pertama, setelah sekian kali ditunda.
Baca juga: Pembangunan jembatan Palmerah-PLTAL terhambat di Bappenas
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Timur, Andre W Koreh secara terpisah mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara itu tetap dilaksanakan, meski masih mengalami kendala teknis.
"Pembangunan jembatan Pancasila Palmerah tetap dilaksanakan. Jadi tidak berhenti hanya pada rencana peletakan batu pertamanya," katanya.
Menurut dia, pembahasan tentang kelanjutan pembangunan jembatan Palmerah baru dilakukan pada (24/7) 2018 lalu di Jakarta dengan Kementerian ESDM.
Rapat tersebut membahas studi konektivitas dengan pihak Perusahan Listrik Negara (PLN) yang dipaparkan oleh pihak Konsorsium dari Belanda PT Tidal Brigde.
Latif Gau berharap agar pembangunan jembatan layang itu segera mulai, namun urusan administrasi dengan pihak PLN belum juga tuntas, serta masih menunggu persetujuan dari Bappenas.
Baca juga: Jembatan Palmerah tetap dibangun
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Prabowo: Kami tahu ada yang mengganggu Indonesia, kami tidak bodoh
14 February 2026 8:24 WIB
Governor invites President to officiate groundbreaking of bridge project
15 May 2018 15:42 WIB, 2018