Satu desa di Manggarai Barat masih terisolir

id Longsor

Sejumlah alat berat berusaha membersihkan tumpukan material yang menutup jalan trans Flores di blok S kampung Melo, Manggarai Barat. (ANTARA Foto/humas pemkab mabar)

Kupang (ANTARA) - Kepala Pelaksana Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Thomas Bangke  mengatakan satu desa di Kecamatan Mbeling, Kabupaten Manggarai Barat masih terisolir karena putusnya akses transportasi akibat tanah longsor.

"Ada satu desa yang hingga saat ini masih terisolir dari akses transportasi yaitu Desa Tondong Belang, akses transportasi menuju desa itu masih putus total," kata Thomas Bangke ketika ditemui Antara di Kupang, Selasa (12/3).

Menurut Thomas, Desa Tondong Belang merupakan salah satu desa di kabupaten Manggarai Barat yang ikut terdampak bencana alam tanah longsor yang melanda wilayah ujung barat pulau Flores itu pada Kamis (7/3) lalu.

Ia mengatakan, akses transportasi menuju desa ini masih putus total karena masih terdapat longsoran sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan termasuk kendaraan yang akan mendistribusikan bantuan logistik.

Thomas menjelaskan, kendaraan bantuan logistik belum berhasil masuk ke Desa Tondong Belang untuk mendistribusikan bantuan karena ruas jalan masih ditutupi material longsoran.

Menurut mantan Kepala Dinas Koperasi Provinsi NTT, tima SAR dari unsur TNI/Polri, BPBD, Tagana dan masyarakat terpaksa mendistribusikan bantuan logistik dengan berjalan kaki sepanjang 2 km menuju Desa Tondong Belang.

"Kondiai jalan yang penuh dengan material longsoran menjadi kendala dalam distribusi bantuan bagi korban bencana menuju Desa Tondong Belang. Akses yang bisa dilakukan hanya dengan jalan kaki sehingga distribusi logistik dilakukan dengan cara dipikul dengan jalan kaki sepanjang 2 km," kata Thomas.

BPBD NTT mengapresiasi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat yang sangat aktif membantu tim SAR mendistribusikan bantuan dengan cara memikul semua bantuan logistik untuk korban bencana di Desa Tondong Belang. 


 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar