Bulog NTT juga kehabisan stok bawang merah dan putih

id bawang,bulog

Seorang pedagang sedang menjajakan barang dagangannya di Pasar Oebobo, Kota Kupang, NTT. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)

Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTT terpaksa menghentikan operasi pasar bawang merah dan putih di pasaran Kota Kupang akibat stok komoditas tersebut telah habis di gudang.
Kupang (ANTARA) - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur terpaksa menghentikan operasi pasar bawang merah dan putih di pasaran Kota Kupang akibat stok komoditas tersebut telah habis di gudang.

"Akibat stok bawang merah dan putih habis di gudang, kami terpaksa hentikan operasi pasar sementara waktu," kata Kepala Bulog Divre NTT Eko Pranoto di Kupang, Rabu (24/4).

Hal ini disampaikan ketika ditanya terkait peran Bulog Divre NTT mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok di NTT, khususnya Kota Kupang, karena sejak sepekan lalu, harga bawang putih dan bawang merah terus merangkak naik.

Hingga saat ini harga bawang merah sudah mencapai Rp30,000/kg, sedang harga bawang putih mencapai Rp70.000/kg. "Kami masih menunggu pasokan bawang merah dan putih dari para petani," kata Eko Pranoto.

Ia menambahkan stok bawang merah dan putih telah habis di gudang sejak pekan lalu, ketika harga komoditas tersebut mulai merangkak naik di sejumlah pasar tradisional yang ada di Kota Kupang.

Ia menambahkan saat berlangsungnya operasi pasar, Bulog NTT menjual bawang merah dengan harga Rp25.000/kg, sedang bawang putih dengan harga Rp23.000/kg.

"Namun, stok kedua komoditas tersebut telah habis di gudang. Paling lama Juni atau Juli baru kami bisa membeli bawang dari hasil panenan petani di NTT," ujar dia.

Sejumlah ibu rumah tangga yang ditemui di pasar tradisional Kota Kupang mengakui bahwa harga bawang merah dan putih saat ini cukup mahal, namun mereka hanya bisa pasrah karena stok yang dimiliki Bulog juga habis untuk kegiatan operasi pasar.

Baca juga: Harga bawang putih tembus Rp70.000/kg
Baca juga: Bulog NTT serap 20 ton bawang merah-putih
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar