Logo Header Antaranews Kupang

Ditjenpas NTT dukung ketahanan pangan melalui panen 10 ton jagung

Sabtu, 23 Mei 2026 08:31 WIB
Image Print
Kegiatan panen raya jagung sebanyak 10 ton di lahan kebun SAE Lapas Kelas IIA Kupang, Jumat (22/5/2026). (ANTARA/HO-Ditjenpas NTT)

Kupang, NTT (ANTARA) - Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur (Ditjenpas NTT) mendorong penguatan ekonomi daerah sekaligus ketahanan pangan melalui panen 10 ton jagung yang dihasilkan dari lahan seluas dua hektare di Lapas Kelas IIA Kupang.

“Di atas lahan seluas kurang lebih dua hektar, dengan 28 kg benih yang ditanam, hari ini berhasil dipanen sekitar 10 ton jagung. Ini bukan hanya keberhasilan pertanian, tetapi bentuk dukungan kami terhadap kemandirian pangan,” kata Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT Ketut Akbar Herry Achjar di Kupang, Jumat.

Ia mengatakan lahan karang yang sebelumnya tandus seluas kurang lebih dua hektar tersebut berhasil disulap menjadi lahan produktif melalui kolaborasi bersama PT SMJ.

Ia menyebut seluruh proses pengelolaan kebun jagung tersebut dikerjakan langsung oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Kupang sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.

Melalui kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan pertanian, disiplin kerja, serta pengalaman lapangan agar ketika kembali ke tengah masyarakat nantinya mereka telah memiliki kemampuan untuk mandiri dan produktif.

“Pemasyarakatan hari ini bukan hanya tentang menjalani hukuman, tetapi bagaimana negara hadir membina dan mempersiapkan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat,” tambahnya.

Ia juga mengatakan kegiatan panen raya tersebut menjadi bentuk nyata dukungan Pemasyarakatan terhadap program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Pada kesempatan sama, anggota DPD RI Perwakilan NTT Abraham Lianto menilai keberhasilan mengubah lahan berbatu menjadi kebun produktif dapat menjadi contoh bagi daerah lain di NTT yang memiliki banyak lahan tidur dengan karakter tanah serupa.

“Saya kira ini bisa menjadi contoh buat NTT, karena daerah kita memiliki banyak lahan tidur dengan kontur tanah berbatu yang hari ini terbukti bisa disulap melalui kolaborasi. Dari kegiatan ini, kita bisa mengambil makna penting di tengah isu El Nino dan situasi geopolitik yang memicu kenaikan harga-harga, di mana jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif saat musim kelaparan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin menjelaskan kerja sama dalam Program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) tersendiri sejalan dengan prinsip 5P yang menjadi dasar pemberdayaan perusahaan di NTT, yakni pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil.

“Kerja sama dalam Program SAE ini adalah bukti nyata dari prinsip 5P kami, di mana kami fokus pada pemberdayaan yang saling menguntungkan serta memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar warga binaan memiliki keterampilan yang berdampak nyata,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026