Kekeringan tak berdampak rawan pangan di NTT

id Dinas Pertanian NTT

Hamparan lahan pertanian di wilayah Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)

“Sejauh ini belum ada laporan masuk kabupaten/kota kepada kami tentang adanya ancaman rawan pangan meskipun ada daerah yang mengalami kekeringan ekstrem tapi tak berdampak pada kerawanan pangan,” kata Yohanes Oktavianus.
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur, Yohanes Oktavianus, mengemukakan kekeringan yang terjadi akibat musim kemarau 2019 di provinsi setempat tidak berdampak pada munculnya ancaman rawan pangan.

“Sejauh ini belum ada laporan masuk kabupaten/kota kepada kami tentang adanya ancaman rawan pangan meskipun ada daerah yang mengalami kekeringan ekstrem tapi tak berdampak pada kerawanan pangan,” katanya di Kupang, Rabu (4/9).

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan kondisi musim kemarau yang tengah melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berdampak pada kekeringan ekstrem di sejumlah daerah.

Ia mengatakan, dampak kekeringan dalam musim kemarau ini belum sampai pada munculnya kerawanan pangan namun lebih dirasakan pada kerusakan tanaman pertanian.

Ia mencontohkan seperti kerusakan tanaman padi di Kabupaten Sikka, Pulau Flores yang tercatat mengalami rusak ringan 165 hektare, rusak sedang 35 hektare, dan rusak berat 12 hektare.

Baca juga: NTT diambang siaga kekeringan

Selain itu, di Kabupaten Kupang sekitar 15 hektare tanaman yang mengalami kerusakan berat, kerusakan sedang 10 hektare, dan kerusakan ringan 30 hektare.

“Jadi dampak kerusakan tanaman mulai terasa tapi tidak sampai pada munculnya kerawanan pangan. Kami juga sudah minta setiap kabupaten untuk segera melaporkan manakala itu terjadi,” katanya.

Yohanes mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan di lapangan untuk dilakukan upaya pengurangan resiko kekeringan. Di antaranya, pemantauan alat mesin pertanian berupa pompa air yang memungkinkan bisa dimanfaatkan untuk tanaman pertanian.

“Kami juga sudah meminta agar petani bisa saling membantu peralatan pompa air, tetapi dari sumber airnya sendiri yang mengering maka upaya penanganan menjadi sulit,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya justeru mengkhawatirkan terjadi hujan dalam waktu singkat di tengah musim kemarau karena memicu munculnya serangan hama.

“Karena kalau muncul hujan lebat misalnya dalam satu hari lalu panas lagi maka telur hama seperti belalang bisa menetas dan menyerang lahan pertanian,” katanya.

Baca juga: Sumba Timur darurat kekeringan
Baca juga: 100 persen zom NTT alami periode kemarau
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar