Disnak NTT antisipasi virus flu babi dari China

id Babik, NTT, Kota Kupang

Disnak NTT antisipasi virus flu babi dari China

Sampel darah diambil dari babi oleh petugas kesehatan hewan selama pemeriksaan di sebuah peternakan babi dalam upaya untuk mencegah flu babi. (ANTARA/ Reuters)

Jikalau virus flu babi ini masuk ke Indonesia dikhawatirkan akan menjadi pandemi baru karena bisa menyerang manusia juga
Kupang (ANTARA) - Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang mengantisipasi masuknya virus flu babi dari China bernama G4 EA H1N1 yang berpotensi menjadi pandemi seperti COVID-19 karena dapat menyerang ke manusia.

"Kalau virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) itu memang berbahaya tetapi hanya menyerang babi saja, tetapi jikalau virus flu babi ini masuk ke Indonesia dikhawatirkan akan menjadi pandemi baru karena bisa menyerang manusia juga," kata Sekretaris Dinas Peternakan NTT Frans Samon kepada ANTARA di Kupang, Jumat, (3/7).

Baca juga: NTT alihkan anggaran pembibitan babi Rp2 miliar untuk tangani COVID-19

Saat ini kata dia tim yang dibentuk oleh Dinas Peternakan NTT sedang terus mengantisipasi masuknya virus itu ke NTT, walaupun sampai saat ini belum menyebar di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa pengawasan sudah dilakukan seiring dengan pengawasan virus babi yang saat ini mulai mereda penyerangannya ke sejumlah babi di NTT.

Frans sendiri mengkhawatirkan jangan sampai virus flu babi China itu masuk melalui Timor Leste dan masuk ke wilayah NTT mengingat NTT berbatasan langsung dengan negara itu.

"Kita antisipasi sejauh ini sama seperti yang kami lakukan pada saat ASF itu. Walaupun masih saja masuk ke NTT, padahal setiap pintu masuk sudah kita antisipasi," tutur dia.

Dinas Peternakan mengimbau agar masyarakat di NTT untuk hati-hati mengkonsumsi babi, walaupun saat ini virus flu babi dari China itu belum sampai ke Indonesia.

Ia mengharapkan jika ada yang ingin membeli daging babi, dianjurkan membeli di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) karena sejumlah ternak yang dipotong sudah melalui tahap tes kesehatan.

Sebelumnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian meningkatkan pengawasan di pintu masuk lalu lintas hewan dan produk yang mempunyai potensi risiko membawa penyakit.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menjelaskan para petugas karantina meningkatkan pengawasannya sebagai bentuk waspada dan antisipasi terhadap temuan virus baru flu babi (swine flu) G4 EA H1N1 yang dipublikasi oleh ilmuwan China baru-baru ini.

Menurut dia, temuan virus flu babi ini juga sempat membuat masyarakat bingung, karena menganggap flu babi sama dengan demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Baca juga: Cegah virus ASF, Pasokan ternak babi dilarang masuk Flores Timur

Ketut menegaskan bahwa flu babi dan demam babi Afrika adalah dua penyakit yang berbeda. "Kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia pada saat ini adalah ASF dan bukan flu babi," kata dia.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar