
Nelayan Kembali Melaut

"Syukurlah sekarang kapal-kapal nelayan kami sudah kembali melaut seperti biasa karena cuaca membaik," kata Abdul Wahab Sidin.
Kupang (Antara NTT) - Para nelayan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur kembali melaut di wilayah selatan Pulau Timor karena kondisi cuaca di perairan tersebut sudah kembali normal.
"Syukurlah sekarang kapal-kapal nelayan kami sudah kembali melaut seperti biasa karena cuaca membaik," kata Kepala Bidang Humas Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Wahab Sidin saat dihubungi Antara di Kupang, Jumat, (8/9).
Wahab yang juga nelayan yang bermangkal di PPI Tenau Kota Kupang itu mengatakan, saat ini kondisi angin kencang memang masih terjadi di daerah itu namun lebih dirasakan di wilayah darat.
Ia mengakui, kondisi cuaca buruk di perairan yang terjadi sebelumnya selama lebih dari tiga bulan telah membuat nelayan berada pada kondisi terpuruk.
"Dampaknya juga harga ikan-ikan di pasaran Kota Kupang relatif melonjak naik karena sebelumnya hampir semua kapal cakalang di Kota Kupang yang jumlahnya sekitar 21 unit tidak bisa melaut," katanya.
Selain itu, ia mengakui kondisi cuaca buruk selama berbulan-bulan itu juga menyulitkan nelayan yang melaut dengan kapal-kapal yang dioperasikan dengan cara menyewa atau kontrak.
Ia mengatakan, setelah kondisi cuaca membaik ini ia berharap nelayan bisa mendapatkan bahan bakar solar yang cukup agar bisa kembali mengejar pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk itu ia berharap pasokan bahan bakar di sejumlah Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) di Kota Kupang seperti Oeba, Namosain, dan Oesapa, tetap "stand bye" melayani kebutuhan bahan bakar nelayan di ibu kota provinsi "Selaksa Pulau" itu.
"Apalagi musim-musim sekarang sudah mulai massa panen ikan sampai akhir tahun ini, sehingga bahan bakar sebagai kebutuhan utama harus tetap memadai," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
