NTT-Bengkulu Kerja Sama Antarpulau Ternak

Pewarta : id antarpulau

Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya (kedua kanan) bersama Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah (tengah), menandatangani MoU terkait dengan kegiatan antarpulau ternak di Kupang, Selasa (7/11). (Foto ANTARA/Aloysius Lewokeda)

Kupang (Antara NTT) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya dan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah di Kupang, Selasa, melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama (MoU) antarpulau ternak sapi yang akan dipasok dari NTT.

"Kerja sama ini sangat diperlukan agar para petani peternak kita semkain mendapatkan manfaat dari hasilnya sendiri, di sisi lain juga bermanfaat untuk pemerintah kedua daerah," kata Gubernur Frans Lebu Raya di sela penandatanganan MoU di Ruang Kerja Gubernur NTT di Kupang, Selasa.

Gubernur NTT dua periode itu mengaku lebih tertarik melakukan kerja sama antapulau sapi di dalam negeri seperti yang sudah dilakukan dengan Pemerintah Jawa Timur maupun DKI Jakarta.

Untuk itu, ia menyambut gembira kerja sama dengan Pemerintah Bengkulu itu sebagai awal yang baik, dan akan ditindaklanjuti oleh intansi teknis kedua pemerintahan.

Menurutnya, pemerintahannya sedang membangun NTT sebagai provinsi ternak karena sejak dulu provinsi itu dikenal sebagai gudang ternak. 

"Namun beberapa tahun terakhir populasi sapi di provinsi berbasis kepulauan itu telah meningkat hingga mencapai lebih dari satu juta ekor," katanya.

Menurutnya, kondisi populasi sapi yang didukung dengan citra rasa yang diakui berkualitas tinggi menjadi modal penting untuk mendukung kerja sama dimaksud.

"Daging sapi dari NTT juga enak-enak karena konsumsinya pakan-pakan kering. Harapan kita mudah-mudahan dengan kerja sama ini bisa memberdayakan para petani peternak mendapatkan manfaat dari kerja mereka menghasilkan sapi-sapi berkualitas," katanya.

Namun kerja sama antapulau sapi itu tidak dilakukan untuk sapi betina produktif, untuk menjaga kondisi populasi ternak sapi di daerah itu.

"Yang dikirim itu sapi-sapi jantan, saya juga melarang pemotongan sapi betina produktif agar populasi di sini tetap terjaga, namun kalau penyaluran betina untuk kepentingan tetentu bisa saja meskipun tentu dalam jumlah terbatas," katanya.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah pada kesempatan itu mengakui hampir semua provinsi di Indonesia sudah menikmati rasa daging sapi dari NTT termasuk Bengkulu.

"Kami di Bengkulu juga pernah sekali mendapat kiriman sapi satu kapal sekitar lima ratus ekor langsung dari NTT," katanya.

Ia mengakui NTT memang memiliki potensi populasi sapi yang besar yang memungkinakan dikerjasamakan dengan Bengkulu telah didukung dengan ketersediaan pakan yang menurutnya cukup baik karena memiliki perkebunan kelapa sawit.

"Padang rumput dan sumber air di sana juga tidak terlalu sulit dibanding di wilayah timur sehingga dengan ketersediaan ini menjadi pendukung kerja sama ini," katanya.

Menurutnya, jika kerja sama bisa berkembang dengan bagus maka diimplementasikan secara lebih riil untuk pengembangan sapi potong.

"Untuk itu kami mengharapkan kerja sama ketersediaan bibit, termasuk juga kami membeli betina produktif yang tetap kami pelihara di NTT tapi anak turunan yang jantan dibawa ke Bengkulu," katanya.
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar