
Warga diminta waspadai tanah longsor

"Kami telah mengingatkan warga agar waspadai tanah longsor, karena kawasan di sekitar bantaran kali Liliba masuk dalam zona merah rawan bencana alam," kata Bernadinus Mere.
Kupang`(Antaranews NTT) - Pemerintah Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur mengimbau 200 warga yang bermukim di bantaran kali Liliba agar waspada terhadap bencana alam tanah longsor yang mungkin terjadi ketika hujan lebat.
"Kami telah mengingatkan warga agar waspadai tanah longsor, karena kawasan di sekitar bantaran kali Liliba masuk dalam zona merah rawan bencana alam," kata Camat Oebobo Bernadinus Mere ketika dihubungi Antara di Kupang, Selasa, terkait upaya antisipasi bencana tanah longsor di Liliba.
Beberapa lokasi rawan longsor di Kecamatan Oebobo meliputi dua kelurahan yaitu Kelurahan Tuak Daun Merah dan Oebufu.
Menurut dia, setiap tahun ketika musim hujan di dua wilayah itu selalu diterjang bencana alam tanah longsor mengakibatkan rumah penduduk setempat tertimpa longsoran.
Menurut dia berdasarkan data dimiliki pemerintahan Kecamatan Oebobo, sekitar 200 kepala keluarga bermukim di sekitar bantara kali Liliba.
"Kami sudah berupaya untuk memindahkan warga di bantaran kali Liliba, namun mereka enggan beranjak dari tempat tinggalnya dengan dalih sudah beta dan memiliki rumah permanen di lokasi tersebut," kata Mere.
Pemerintah Kecamatan Oebobo, kata dia, telah berindak tegas dengan tidak memberikan izin membangun terhadap warga yang ngotot membangun kediamannya di sekitar bantaran kali Liliba.
"Jika mereka minta surat apapun di kelurahan dan kecamatan kita tidak akan penuhi. Hal itu dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk memindahkan warga yang rentan terhadap risiko bencana alam," kata Mere.
Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, sudah berupaya merelokasi warga ke Manulai II namun upaya itu ditolak warga yang tinggal di bantaran kali Liliba.
Pewarta : Bennidiktus Jahang
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
