Lipsus - Makna nomor urut bagi Calon Gubernur NTT

id Gubernur

Lipsus - Makna nomor urut bagi Calon Gubernur NTT

Makna nomor urut bagi pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023. (Antara Foto/Kornelis Kaha)

"Dalam situasi yang beliau alami, tidak merubah pandangan saya terhadap beliau sedikit pun. Mungkin orang lain akan meninggalkan dia, tapi saya tidak akan pernah. Pejuang sejati setia sampai titik darah penghabisan," demikian Emlia Nomleni.
Kupang (AntaraNews NTT) - Ballroom Palacio Hotel Aston Kupang menjadi saksi abadi penarikan nomor urut pasangan calon kepala daerah yang akan bertarung dalam ajang Pemilu Gubernur Nusa Tenggara Timur pada 27 Juni 2018.

Tak ada euforia berlebihan di antara keempat pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023. Demikian juga dengan partai politik pengusung serta para pendukung dan simpatisan masing-masing pasangan calon kepala daerah.

Namun, semua hadirin pada saat itu seakan mencurahkan seluruh perhatiannya pada sosok Emilia Nomleni, Calon Wakil Gubernur NTT yang diusung PDI Perjuangan tanpa didampingi Marianus Sae, sebagai calon gubernur yang digadang-gadang oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Bupati Ngada periode 2000-2015 dan 2016-2021 itu sedang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) di sebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur, sehari menjelang penetapan pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT oleh Komisi Pemilihan Umum setempat.

Walaupun Emilia hadir tanpa ada pendampingnya di pelaminan politik lima tahunan itu, perempuan kelahiran Kupang, 19 September 1966 tampak berusaha untuk tegar, namun akhirnya harus meneteskan air mata saat emosi kesedihannya tak bisa lagi terbendung.

Ketua KPU Nusa Tenggara Timur Maryanti Luturmas Adoe kemudian mempersilakan keempat pasangan calon, masing-masing Esthon L Foenay-Christian Rotok, Benny K Harman-Benny A Litelnoni, Victor Bungtilu Laiskodat-Josep Nai Soi, serta pasangan Marianus Sae-Emilia Nomleni untuk maju ke depan.

Pasangan Esthon L Foenay-Christian Rotok yang diusung Partai Gerindra dan PAN meraih nomor urut satu (1), pasangan Marianus Sae-Emilia Nomleni yang diusung PKB dan PDI Perjuangan meraih nomor urut dua (2).

Pasangan Benny K Harman-Benny A Litelnoni yang diusung Partai Demokrat, PKPI, dan PKS meraih nomor urut tiga (3), dan pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat-Josep Nai Soi yang diusung Partai NasDem, Golkar, Hanura, dan PPP berada di nomor urut empat (4).

Para pendukung masing-masing pasangan calon kepala daerah tampaknya sudah mempersiapkan nomor urut, sehingga usai penarikan, mereka langsung membuka nomor urut yang dibuat dalam berbagai bentuk dan corak itu.

Emilia Nomleni tetap menjadi sosok yang menarik bagi para hadirin, bukan karena dirinya seorang perempuan yang berada di tengah-tengah para kandidat laki-laki, akan tetapi karena tidak ada calon gubernur yang ada di sisinya sebagai pendampingnya untuk merajut kebersamaan dalam panggung politik tersebut.

Emilia tak mampu lagi membendung air matanya saat mengangkat nomor urut dua (2). Namun, ia disambut dengan meriah oleh para pendukung dan simpatisannya yang hadir pada saat itu untuk menunjukkan bahwa Emilia tidak sendirian dalam menghadapi situasi politik tersebut.

Dalam akun facebooknya, Emilia menulis "Atas nama Tuhan dan atas nama kemanusiaan, apapun yang terjadi dengan Marianus Sae, dia tetap sahabat saya, abang saya dan pasangan saya dalam menghadapi pilkada NTT saat ini".

"Dalam situasi yang beliau alami, tidak merubah pandangan saya terhadap beliau sedikit pun. Mungkin orang lain akan meninggalkan dia, tapi saya tidak akan pernah. Pejuang sejati setia sampai titik darah penghabisan," demikian Emlia Nomleni.

Marianus Sae dijaring KPK dalam OTT di sebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur atas dugaan menerima suap pengerjaan proyek di lingkup Pemerintahan Kabupaten Ngada senilai Rp4,1 miliar.

Usai penarikan nomor urut pasangan calon kepala daerah, Maryanti Luturmas Adoe mengharapkan para calon agar tetap sehat dan mempersiapkan diri mengikuti tahapan pilkada selanjutnya, terutama kampanye dari tanggal 15 Februari sampai 23 Juni 2018.

Makna nomor urut
Bagi pasangan Esthon L Foenay-Christian Rotok, mereka tidak memiliki nomor istimewa dalam penarikan nomor urut tersebut.

"Kalau sudah nomor satu, tidak perlu ada nomor lain lagi," seloroh Esthon yang juga mantan Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013 itu.

Terus apa makna nomor urut dua (2) bagi pasangan Marianus Sae-Emilia Nomleni? "Nomor urut dua (2) merupakan lambang kebahagiaan. Saya menangis bukan karena sedih, tetapi karena bahagian bisa mendapatkan nomor urut dua".

"Nomor ini juga sudah merupakan hasil dari pergumulan saya dengan Pak Marianus Sae dan tim. Kami akan tetap solid, dan kondisi ini bukan akhir dari segalanya, tetapi menjadi semangat perjuangan baru untuk meraih nomor satu di NTT," kata Emilia.

Andreas Hugo Pareira dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan juga turut senang dan bangga, karena Emilia mendapat nomor urut dua dalam konstalasi politik menuju suksesi kepemimpinan Nusa Tenggara Timur saat ini.

Nomor dua itu disebutnya sebagai perlambang perdamaian dan kemenangan. Nomor urut yang sama juga didapatkan Jokowi pada Pemilu Presiden 2014.

Pareira yang juga anggota DPR-RI itu, menilai Emilia adalah sosok perempuan tangguh dan merupakan satu-satunya calon kepala daerah perempuan yang diusung PDI Perjuangan.

"Ibu Megawati menunjuk Ibu Emilia untuk berlaga dalam politik yang sangat maskulin, karena beliau adalah perempuan yang luar biasa. Untuk membangun NTT, butuh kasih dan ketulusan hati seorang ibu. Sama seperti seorang ibu yang terus berjuang membesarkan anak-anaknya tanpa mengenal pamrih," katanya.

Meski berlaga tanpa pasangan, Andreas tetap optimistis bahwa Emilia akan berjuang semaksimal mungkin, bergotong royong bersama mesin partai, relawan, dan para simpatisan untuk meraih kemenangan.

Disebutnya bahwa perjuangan politik pihaknya tidak pernah mengenal kata "menyerah".

Sejarah, ujarnya, telah membuktikan bahwa dalam kondisi sesulit apapun, di bawah tekanan dan intervensi kekuasaan Orde Baru pada saat itu, pihaknya tetap bisa bertahan sampai sekarang.

"Kami akan berjuang sampai akhir dengan iman dan tekad untuk memenangkan Ibu Emilia," kata Andreas.

Sementara, Calon Gubernur NTT Benny K Harman melukiskan nomor urut tiga (3) yang diraihnya bersama Benny A Litelnoni merupakan lambang Tri Tunggal Maha Kudus sebagaimana keyakinan umat Katolik yang berarti Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus.

Dalam politik, angka "tiga" bermakna bahwa pasangannya didukung oleh tiga partai politik pengusung, yakni Partai Demokrat, PKPI, dan PKS. "Ini simbol koalisi kita, Harmoni dan Bhineka," katanya.

Bagi orang Lamaholot yang ada di Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Lembata, Solor, dan Alor, mengartikan angka tiga sebagai kekuatan utama, yakni negara, pasar, dan rakyat.

"Saya optimistis bahwa Harmoni (simbol politik pasangan Benny K Harman-Benny A Litelnoni, red.) akan menjadi juaranya," kata mantan Wakil Ketua Komisi III DPR-RI itu.

Bagi pasangan Victor Bungtilu Laiskodat-Josep Nai Soi (Vivtori-Joss), tidak terlalu mempersoalkan nomor urut yang disandangnya dalam menghadapi Pilgub NTT 2018.

Namun, mereka yakini bahwa nomor urut tersebut memiliki kekuatan dan dukungan penuh menuju kursi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar