Oelamasi-Lelogama Putus Total
Kamis, 9 Februari 2017 11:03 WIB
Ruas jalan yang menghubungkan Oemalasi dengan Lelogama di wilayah Kabupaten Kupang, NTT putus total akibat longsoran. (Foto ANTARA)
Kupang (Antara NTT) - Jalan yang menghubungkan Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan menuju Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), putus total sejak Senin (6/2).
"Betul sekali ruas jalan negara yang menghubungan Lelogama-Oelamasi, putus total sejak Senin (6/2) siang. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa melintas di lokasi longsoran itu," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Kupang Joni Nomseo kepada Antara di Oelamasi, Rabu.
Nomseo ditemui di Kantor Bupati Kupang, 38 km arah timur Kota Kupang, mengatakan, akibat hujan deras dengan intensitas tinggi di daerah ini, menyebabkan terjadi dua longsoran di jalan negara yang menghubungkan Lelogama-Oelamasi.
Menurut dia, lokasi longsoran yang sangat luas terdapat di Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah yang menyebabkan putusnya akses transportasi menuju Lelagama dan beberapa daerah lainnya di wilayah Kecamatan Amfoang Tengah, Amfoang Selatan di Kabupaten Kupang.
"Sebelumnya kendaraan umum masih bisa melintas di lokasi longsoran di Desa Oelbiteno, namun akibat tingginya curah hujan yang terjadi Sabtu-Minggu (4-5/2) menyebabkan areal longsoran semakin luas dan meruntuhkan jalan negara yang sudah dihotmix tahun 2015," katanya.
Semua kendaraan dan penumpang menuju Lelogama-Oelamasi maupun sebaliknya terhenti di lokasi longsoran. Para penumpang yang hendak menuju Kupang harus menganti kendaraan lain.
Dikatakannya, ruas jalan Oelamasi-Lelogama merupakan satu-satunya jalan poros tengah di Kabupaten Kupang yang menghubungkan tiga kecamatan di wilayah utara Kabupaten Kupang yaitu, Kecamatan Fatuleu Barat, Amfoang Selatan, dan Amfoang Tengah.
Menurut dia, tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT bersama BPBD Kabupaten Kupang telah mendatang lokasi longsoran untuk melihat secara langsung jalan yang hancur akibat bencana alam tanah longsoran.
"Betul sekali ruas jalan negara yang menghubungan Lelogama-Oelamasi, putus total sejak Senin (6/2) siang. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa melintas di lokasi longsoran itu," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Kupang Joni Nomseo kepada Antara di Oelamasi, Rabu.
Nomseo ditemui di Kantor Bupati Kupang, 38 km arah timur Kota Kupang, mengatakan, akibat hujan deras dengan intensitas tinggi di daerah ini, menyebabkan terjadi dua longsoran di jalan negara yang menghubungkan Lelogama-Oelamasi.
Menurut dia, lokasi longsoran yang sangat luas terdapat di Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah yang menyebabkan putusnya akses transportasi menuju Lelagama dan beberapa daerah lainnya di wilayah Kecamatan Amfoang Tengah, Amfoang Selatan di Kabupaten Kupang.
"Sebelumnya kendaraan umum masih bisa melintas di lokasi longsoran di Desa Oelbiteno, namun akibat tingginya curah hujan yang terjadi Sabtu-Minggu (4-5/2) menyebabkan areal longsoran semakin luas dan meruntuhkan jalan negara yang sudah dihotmix tahun 2015," katanya.
Semua kendaraan dan penumpang menuju Lelogama-Oelamasi maupun sebaliknya terhenti di lokasi longsoran. Para penumpang yang hendak menuju Kupang harus menganti kendaraan lain.
Dikatakannya, ruas jalan Oelamasi-Lelogama merupakan satu-satunya jalan poros tengah di Kabupaten Kupang yang menghubungkan tiga kecamatan di wilayah utara Kabupaten Kupang yaitu, Kecamatan Fatuleu Barat, Amfoang Selatan, dan Amfoang Tengah.
Menurut dia, tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT bersama BPBD Kabupaten Kupang telah mendatang lokasi longsoran untuk melihat secara langsung jalan yang hancur akibat bencana alam tanah longsoran.
Pewarta : Bennidiktus Jahang
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Badan Geologi: Dinding kawah Gunung Kelimutu longsor akibat curah hujan tinggi
12 January 2026 18:19 WIB
Mendagri pastikan mampu tak mampu pemerintah pusat bantu daerah terkena bencana
02 December 2025 9:38 WIB
Korban meninggal akibat banjir di Aceh, Sumut, Sumbar bertambah jadi 442 jiwa
01 December 2025 9:48 WIB
BMKG: Fenomena Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum terjadi di Selat Malaka
27 November 2025 9:46 WIB